Berita

Menjamurnya media sosial saat ini seperti face book, tweeter, bbm, whats up, line, email, blogspoot, web site merupakan sarana advokasi dan konsolidasi gerakan sosial yang cukup efektif. “Aktivitas masyarakat seperti like, share, ngetweet merupakan fenomena baru kegiatan masyarakat yang mudah dilakukan semua orang. Click activism mampu menyambungkan semua orang walau kondisi geografis tidak memungkinkan dalam mersepon isu-isu publik”. Hal ini disampaikan Dhenok Pratiwi, aktivis change.org dalam kegiatan Youth Conference on Anti Corruption di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Jawa Barat, Selasa, (10/11/2015).  

Suasana Youth Conference on Anti Corruption di Hotel Bumi Wiyata Kota Depok, Selasa, (10/11/2015) 

Besutan Ilmu Komunikasi UGM ini merinci bahwa media sosial telah menjadi agenda propaganda dan wacana dari masing-masing orang sesuai dengan isu yang diinginkan.  “Media baru ini telah meminggirkan peran editor dalam pengelolaan isu. Sekarang ini, semua orang bisa menjadi editor dalam menyumbangkan isu sosial diruang publik” sebutnya.

Senada dengan Pratiwi, pegiat NU Online Savic Ali, menguraikan bahwa setiap gerakan anggota kelompok masyarakat yang menggunakan media sosial sangat berarti bagi perubahan sosial. “Kita tidak bisa meremehkan setiap aktivitas masyarakat yang menggunakan media sosial. Dalam konteks demokrasi, click aktivism tidak jauh berbeda dengan demonstrasi yang dilakukan oleh masyarakat. Semuanya bertujuan untuk merubah kebijakan yang lebih berpihak kepada masyarakat terkhusus kelompok masyarakat marginal yang tidak memiliki akses kekuasaan dalam pengambilan keputusan. Yang membedahkan, demonstrasi bisa menyebabkan macet yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat sedangkan click aktivism tidak”, candanya disambut tawa peserta konferensi.

Dalam rangka memperkuat komitmen dan konsolidasi gerakan anti korupsi bagi kelompok anak muda, Transparency International Indonesia menyelenggarakan Youth Conference on Anti Corruption di Hotel Bumi Wiyata, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat. Kegiatan ini bertujuan untuk menyatukan suara dalam memetakan dan merespon isu-isu korupsi serta merumuskan komunike atau pernyataan bersama sebagai respon aktif dan kritis terhadap isu-isu korupsi ditingkat lokal dan nasional. Kegiatan yang secara resmi dibuka Sekretaris Jendral TII, Dadang Trisasongko dihadiri oleh berbagai utusan pemuda pegiat anti korupsi se-Indonesia. *Vitto

Vitus Pehan
Author: Vitus PehanWebsite: www.bengkelpemilu.orgEmail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Staff Bengkel APPeK
Vitus Pehan, mulai bergabung dengan Perkumpulan “Bengkel” APPeK NTT sejak Januari 2013. Saat ini menjadi Staf Divisi Litbang dan Informasi Bengkel APPeK setelah sebelumnya menjadi fasilitator lapangan Pendidikan Pemilih diwilayah Kecamatan Amabi Oefeto Timur, Desa Oemofa dan Desa Oemolo. Selalu tertarik dengan isu-isu politik, pelayanan publik, perencanaan penganggaran dan kemandirian desa.

Tentang Kami

Bengkel APPeK (Bengkel Advokasi Pengembangan dan Pemberdayaan Kampung) adalah Sebuah Organisasi Berbadan Hukum Perkumpulan dan Bersifat Nirlaba yang Melakukan Fasilitasi dan Implementasi Langsung  dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat Rentan, Perempuan dan anak pada Komunitas Desa-Kelurahan dan Pengembangan TKLD di Berbagai Level, dengan dukungan sumber daya yang berasal dari Iuran Anggota, Dana Hibah dari Berbagai Sumber Baik Lokal, Nasional dan Internasional (Kecuali Dana Hutang Luar Negeri) serta memiliki Wilayah Kerja di Regional Nusa Tenggara.

Bengkel APPeK Social Media