Berita

Gurita korupsi yang mendera bangsa dan negara saat ini ditanggapi kelompok anak muda di Kota Kupang dengan berbagai cara. Salah satu yang saat ini gencar dilakukan adalah dengan menggelar pentas seni dan diskusi film seperti yang dilakukan Youth Report Centre Kupang bekerja sama dengan mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Unika dan Saya Perempuan Anti Korupsi NTT. Kegiatan ini dilaksanakan di taman nostalgia, Sabtu, 30/04/2016. Kegiatan yang mengambil tema bongkar kebiasaan lama, mahasiswa bicara korupsi ini bertujuan mengingatkan anak muda agar bebas dari belenggu praktek korupsi.

Group Musik The Cort saat tampil di Pentas Seni dan Diskusi Film YRC (30/04/2015)

Pengampuh YRC Kupang, Fr. Yan Usfomeny menjelaskan bahwa dalam rangka mencegah tindakan korupsi maka perlu penyadaran kritis bagi semua kalangan masyarakat terutama kelompok anak muda yang merupakan aset zaman. “Kaum muda sedini mungkin harus dibekali nilai dan prinsip anti korupsi sehingga ketika peralihan estafet kepemimpinan praktek korupsi perlahan bisa teratasi. Pembangunan kesadaran kritis ini bisa dilakukan dengan berbagai cara dan media. Kami YRC sesuai keahlian menggelar pentas seni dan diskusi film. Selain itu, panggung ini juga harus menumbuhkan ruang kreativitas bagi anak muda yang potensial. Oleh karena itu, kami juga menggelar unjuk seni dari kalangan anak muda. Harapannya adalah kreativitas anak muda yang masih terselubung diangkat dan disinergikan dengan gerakan anti korupsi. Kegiatan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, seperti Bengkel APPeK, SPAK dan Transparency Internasional Indonesia”.

Ketua YRC Kupang, Fortanatus Dodok dalam sambutannya menegaskan bahwa agar terhindar dari juara korupsi yang selama ini menjadi predikat NTT, maka gerakan mengenalkan nilai-nilai anti korupsi harus dilakukan secara massif. “Saat ini provinsi kita masih menjadi juara korupsi . Untuk merubahnya kita butuh gerakan pencegahan dan pemberantasan yang harus lebih luar biasa. Kita berharap dengan gerkaan yang sudah mulai kita lakukan saat ini bisa berdampak pada masa mendatang. Ini tanggung jawab kita bersama terutama anak muda sehingga saat diberi kepercayaan memimpin kita sudah bisa bebas dari belenggu korupsi”.

Kelompok anak muda terlihat sangat antusias mengikuti acara bedah dan diskusi film ini. Film yang diputar adalah save our school yang merupakan cerita sukses salah satu lembaga pendidikan tingkat SLTA yang membongkar praktek korupsi disekolahnya. Kegaiatan pentas seni mempertunjukan kebolehan group music  The Cort, teater SMAK Sint. Carolus,  komunitas Orang Indonesia, puisi dan musikalisasi puisi dari Angkatan Muda Adonara.  Kegiatan yang dihadiri dari 200-an anak muda ini diakhiri dengan jai bersama. Tampak hadir dalam kegiatan ini, Koordinator Bengkel APPeK, Vinsen Bureni, Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Unika, Servas Rotriques dan Koordinator SPAK NTT, Essy Toulasik.*Vitto

Vitus Pehan
Author: Vitus PehanWebsite: www.bengkelpemilu.orgEmail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Staff Bengkel APPeK
Vitus Pehan, mulai bergabung dengan Perkumpulan “Bengkel” APPeK NTT sejak Januari 2013. Saat ini menjadi Staf Divisi Litbang dan Informasi Bengkel APPeK setelah sebelumnya menjadi fasilitator lapangan Pendidikan Pemilih diwilayah Kecamatan Amabi Oefeto Timur, Desa Oemofa dan Desa Oemolo. Selalu tertarik dengan isu-isu politik, pelayanan publik, perencanaan penganggaran dan kemandirian desa.

Tentang Kami

Bengkel APPeK (Bengkel Advokasi Pengembangan dan Pemberdayaan Kampung) adalah Sebuah Organisasi Berbadan Hukum Perkumpulan dan Bersifat Nirlaba yang Melakukan Fasilitasi dan Implementasi Langsung  dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat Rentan, Perempuan dan anak pada Komunitas Desa-Kelurahan dan Pengembangan TKLD di Berbagai Level, dengan dukungan sumber daya yang berasal dari Iuran Anggota, Dana Hibah dari Berbagai Sumber Baik Lokal, Nasional dan Internasional (Kecuali Dana Hutang Luar Negeri) serta memiliki Wilayah Kerja di Regional Nusa Tenggara.

Bengkel APPeK Social Media