Berita

Penyelesaian masalah secara bersama merupakan salah satu target dalam memberdayakan masyarakat. Untuk bisa mencapai target tersebut, maka aktivitas pengorganisasian warga menjadi salah satu acuan agar semua warga bisa terlibat mengidentifikasi masalahnya, potensinya dan menyelesaikan masalah mereka berdasarkan potensi yang mereka miliki. Pengorganisasian warga juga merupakan salah satu langkah awal untuk mendorong adanya perubahan ataupun upaya mempengaruhi para pengambil kebijakan melalui proses advokasi.

Berbagai pengalaman pengorganisasian warga menghiasi aktivitas Forum Perempuan di desa-desa dampingan Bengkel APPeK. Misalnya saja mengorganisir kaum perempuan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan ekonomi produktif (pengolahan pangan lokal, tenun ikat dan usaha koperasi dan simpan pinjam), kegiatan bidang pertanian dan juga untuk memenuhi kebutuhan air bersih dan infrastruktur lainnya.

Untuk mendukung proses pengorganisasian warga ini maka disetiap desa dampingan dipilih atau ditentukan koordinatornya yang disebut dengan pengorganisir masyarakat atau community organizer (CO). CO memiliki peran penting dalam mengorganisir warga, karena dialah yang akan menjadi penggagas usaha atau kegiatan yang akan dilakukan, memotivasi dan menggerakkan kaum perempuan lainnya untuk bisa terlibat dalam berbagai aktivitas. CO juga akan berperan dalam membangun komunikasi dengan berbagai pihak, agar upaya pemecahan masalah mendapat dukungan dari berbagai pihak (misalnya pemerintah desa, BPD, tokoh masyarakat, tokoh agama dan lainnya).

Ibu-ibu yang tergabung dalam Forum Perempuan di beberapa desa dampingan merasa bangga menjadi CO, apalagi ketika usaha mereka sebagai CO bisa menunjukkan hasil yang baik. Pengalaman-pengalaman berikut ini merupkan bukti bahwa CO dari unsur FP mampu berbuat yang terbaik untuk membangun desa.

 

Mama Endah Selan, CO Desa Haumenbaki

“Di bulan Oktober tahun lalu desa Haumenbaki mendapat bantuan peningkatan jalan sirtu. Di awal pengerjaan kita sempat tanya CV apa yang menang tender tapi dari dinas PU hanya bilang CV dari Kupang. Di saat pengerjaan, CV tersebut menggambil atau menggunakan bukan sirtu tetapi abu atau lumpur. Kami masyarakat tidak mau, kita ngotot sampai ke Dinas PU malah tidak ada jawaban yang jelas. Di bulan desember saat hujan mengguyur Haumenbaki, parahlah jalan tersebut, masyarakat setengah mati dengan keadaan tersebut, aktivitas perekonomian macet karena kondisi jalan. Saya sebagai CO saya bergerak, saya hubungi pendamping Ibu Ida (dari bengkel APPeK). Kades, BPD dan anggota forum kita menghadap ke DPRD dengan membawa bukti foto dan sampel abu. Kita diterima Bapak Wakil DPRD, Imanuel Olin dan dijanjikan akan turun langsung. Tapi karena kesibukan waktu itu, Bapak Imanuel Olin tidak sampai turun karena rapat paripurna.Saya cari jalan lagi bagaimana supaya suara kita didengar oleh pengambil kebijakan. Akhirnya saya menggunakan layanan CALL CENTER dan pendamping tetap berusaha membantu forum dengan membuat surat pengaduan yang tembusannya sampai ke Bupati, Kejaksaan, DPRD, kecamatan dan pihak terkait. Belum kita sebarkan surat pengaduan, CV sudah datang untuk memperbaiki jalan dan sementara masih dalam pengerjaan dan forum tetap memantau”

Mama Yesti Nome Nepa, CO Desa Oenoni 2

“Saya sebagai CO sudah bisa menghimpun teman-teman forum perempuan untuk bisa ikut arisan setiap bulan yang dilakukan pada tanggal 15 setiap bulan dan juga membuat rantangan untuk menambah uang kas yang ada dan juga  setiap angota forum sudah mohon untuk pinjaman dan setiap bulan pertemuan sudah mampu untuk mengembalikan dana pokok dan bunga. Dengan dana yang ada juga kami sementara tanam kacang hijau.Kami dari forum perempuan Oenoni juga sudah tahu tentang tupoksi kami masing-masing, untuk itu kami dari forum juga telah mengusulkan usulan kami di musrenbang desa namun usulan tidak lolos di musrenbangcam. Namun kamun forum perempuan berkoordinasi dengan kades dan bersama staf dan akan dijawab dengan dana desa tahun 2016 ini.”

 

Mama Esperansa Tefban, CO Desa Ponain

Saya pernah memfasilitasi forum perempuan, aparat desa dan tokoh masyarakat untuk diskusi tentang air bersih yang pemanfaatannya belum merata pada tanggal 17 desember 2016. Kami rapat dan sepakat untuk survei kerusakan pipa, akhirnya ada 10 orang ke lokasi mata air yang jauhnya kurang lebih 5 km dari kampung. Akhirnya kami bersyukur air sudah jalan walaupun kadang-kadang masih ada macet sedikit”.

 Cerita yang dikemukakan oleh mama Esperansa Tefbana merupakan salah satu bentuk pengorganisasian warga untuk mengatasi masalah air bersih di desa Ponain. Mama Esperansa Tefbana bersama Forum Perempuan, tokoh masyarakat dan Warga mengadvokasi terkait dengan air bersih. Langkah awal yang dilakukan adalah FP Desa Ponain mengumpulkan data dan informasi bagi warga penerima manfaat air bersih. Informasi yang mereka dapatkan bahwa dalam pendistribusian air bersih tidak semua masyarakat mendapatkan air tersebut karena pembagian air yang tidak merata. Jika dilihat bahwa ada warga yang mendapatkan air bersih dari perpipaan sedangkan dan ada warga yang tidak mendapatkan air bersih dari perpipaan. Masalah ini akhirnya diangkat dalam musyawarah desa untuk mencari akar masalah atau solusi untuk menyelesaikan persoalan ini. Dalam rapat desa mereka sepakat untuk gotong-royong bersama membersihkan lokasi-lokasi mata air dan titik-titik yang dianggap berpengaruh tersumbatnya saluran air. Setelah dikerjakan secara gotong-royong  akhirnya semua warga desa sudah mengakses air bersih di setiap rumahnya masing-masing.

*Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Befordes Edisi II 2016

 

 

Author: Bengkel AppekEmail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Tentang Kami

Bengkel APPeK (Bengkel Advokasi Pengembangan dan Pemberdayaan Kampung) adalah Sebuah Organisasi Berbadan Hukum Perkumpulan dan Bersifat Nirlaba yang Melakukan Fasilitasi dan Implementasi Langsung  dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat Rentan, Perempuan dan anak pada Komunitas Desa-Kelurahan dan Pengembangan TKLD di Berbagai Level, dengan dukungan sumber daya yang berasal dari Iuran Anggota, Dana Hibah dari Berbagai Sumber Baik Lokal, Nasional dan Internasional (Kecuali Dana Hutang Luar Negeri) serta memiliki Wilayah Kerja di Regional Nusa Tenggara.

Bengkel APPeK Social Media