Berita

Sekolah-sekolah SMP dan SMA Negeri di Kota Kupang umumnya mengabaikan petunjuk teknis penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang dikeluarkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Kupang. Hal ini terekam dalam pemantauan yang dilakukan tim pemantau PPDB yang diinisiasi Ombudsman NTT. Team pemantau PPDB terdiri dari Ombudsman NTT, awak pers, Dewan Pendidikan NTT dan perwakilan LSM Generasi Mandiri (Gema) dan Bengkel APPeK NTT. Dalam kegiatan pemantauan yang dilakukan di masing-masing sekolah di SMKN 3, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 5 dan SMPN 5, Rabu, 27/07/2016  ditemukan bahwa disemua sekolah ini jumlah penerimaan peserta didik dan rombongan belajar melampaui juknis PPDB. Hal ini dikarenakan membludaknya siswa pada tahapan pendaftaran.

Tim Pemantau PPDB yang terdiri dari Ombudsman NTT, Gema NTT dan Bengkel APPeK NTT saat melakukan pertemuan dengan Kepala SMPN 5 Kota Kupang (Rabu, 27/07/16)

Di SMAN 2 misalnya, kuota PPDB tahun ini baik melalui jalur umum maupun jalur khusus hanya 272 orang dengan jumlah rombongan belajar (rombel) sebanyak 8 dan jumlah siswa setiap rombel 34 orang. Membludaknya peminat yang mendaftar yang hampir mencapai ribuan, sekolah ini akhirnya menerima 613 siswa dengan menambah jumlah setiap rombel menjadi 40 orang. Konsekuensi lainnya juga adalah penambahan rombel menjadi 16 atau naik 100% dari yang ditetapkan. Dengan demikian maka jumlah rombel kelas X, XI dan XII menjadi 47. Sementara itu jumlah ruang kelas hanya 24.

Kepada team pemantau, Kepala Sekolah, Drs. Maximilian R. N. Nggeilima menyampaikan bahwa meningkatnya siswa yang mendaftar dikarenakan letak strategis sekolah yang berada ditengah kota. Selain itu, akreditasi A+ dan prestasi lain membuat peminat meningkat drastis. Oleh karena itu sekolah mensiasati dengan penambahan rombel dan penambahan jumlah siswa ditiap rombel. Selain itu sekolah juga membuka “double shift”. Ketika disinggung ketersediaan guru, Nggeilima menyebut hal ini sudah dilakukan kajian dan tidak menjadi masalah bahkan membantu kekurangan jam mengajar guru mata pelajaran tertentu.

Temuan lain juga menunjukan hal yang sama. Di SMKN 3 kuota PPDB  sesuai juknis hanya 238 orang dengan 7 rombel. Tetapi ketika dikonfirmasi kepada panitia PPDB dijelaskan informasi bahwa saat ini SMKN telah menerima 334 siswa dengan 13 rombel sebagaimana yang direncanakan. Hal yang sama juga ditemui di SMPN 5. Jumlah PPDB melalmpaui kuota yang ditetapkan. Sementara itu di SMAN 5 dan SMAN 3, tim pemantau tidak menemui kepala sekolah dan panitianya. Dari informasi yang didapatkan dari beberapa guru, dikedua SMAN juga terjadi penambanhan rombel dan jumlah siswa ditiap rombel. *Vitto

Vitus Pehan
Author: Vitus PehanWebsite: www.bengkelpemilu.orgEmail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Staff Bengkel APPeK
Vitus Pehan, mulai bergabung dengan Perkumpulan “Bengkel” APPeK NTT sejak Januari 2013. Saat ini menjadi Staf Divisi Litbang dan Informasi Bengkel APPeK setelah sebelumnya menjadi fasilitator lapangan Pendidikan Pemilih diwilayah Kecamatan Amabi Oefeto Timur, Desa Oemofa dan Desa Oemolo. Selalu tertarik dengan isu-isu politik, pelayanan publik, perencanaan penganggaran dan kemandirian desa.

Tentang Kami

Bengkel APPeK (Bengkel Advokasi Pengembangan dan Pemberdayaan Kampung) adalah Sebuah Organisasi Berbadan Hukum Perkumpulan dan Bersifat Nirlaba yang Melakukan Fasilitasi dan Implementasi Langsung  dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat Rentan, Perempuan dan anak pada Komunitas Desa-Kelurahan dan Pengembangan TKLD di Berbagai Level, dengan dukungan sumber daya yang berasal dari Iuran Anggota, Dana Hibah dari Berbagai Sumber Baik Lokal, Nasional dan Internasional (Kecuali Dana Hutang Luar Negeri) serta memiliki Wilayah Kerja di Regional Nusa Tenggara.

Bengkel APPeK Social Media