Berita

“Permulaan yang baik semangat, Swish team”  “Tangkyuu yaaa untk orderannya, Sate ikan dan perkedel ikan laris manis” ungkap Maria Marsela Mellyana Yo melalui akun facebooknya usai melakukan praktek pengolahan berbahan baku ikan di Desa Watumilok Kecamatan Kangae Kabupaten Sikka (Sabtu,22/8/2020)

Kegiatan praktek pengolahan tersebut merupakan kegiatan mandiri sebagai salahsatu rencana tindaklanjut hasil diskusi kelompok usai mengikuti pelatihan Softskill kewirausahaan tanggal 11-15 Agustus 2020 yang diselenggarakan oleh Bengkel APPeK NTT kerjasama Yayasan Plan International Indonesia dan Kopernik atas dukungan dana dari SWICTH Asia II Uni Eropa.

Maria Marsela Mellyana Yo yang juga ketua kelompok Pemuda Mandiri Watumilok saat ditemui disela-sela praktek pengolahan, mengungkapkan “kami mau memanfaatakan ikan kami di Desa Watumilok menjadi sate lilit ikan dan perkedel ikan, kami lakukan ini untuk memanfaatkan waktu yang ada dan mau menghasilkan uang, mendapatkan keuntungan dari penjualan agar bisa membesarkan kelompok kami kedepannya, ujar Melan begitu Ia biasa di Sapa. “Rencana kedepan, lanjutnya, semoga kelompok kami tetap berkembang dan lebih besar lagi dari sekarang, bisa menjangkau ke desa lain atau desa tetangga agar kelompok kami berkembang pesat. Untuk sementara ini kami hanya bisa menjual dalam kampung sendiri.

Sementara itu Maria Mikha Ella  atau biasa disebut Ella sebagai salasatu anggota swishteam yang terlibat aktif dalam praktek olahan tersebut mengungkapkan, “Kami sedang belajar membuat sate lilit dan perkedel, mencoba hal yang baru, kalau uji coba hari ini berhasil selanjutnya, kami bisa praktek dirumah untuk dijual ditetangga atau kompleks rumah kami” ujar Ela setelah sebelumnya sudah mengikuti praktek buat pentolan ikan.

Fransiska Januati “Hasil Racikan Kami Sangat Enak”

Sekretaris swisteam Fransiska Januati (25) ketika ditanya sumber biaya untuk melakukan praktek pengolahan ini mengatakan “kami swadaya dengan mengumpulkan uang Rp 20.000 per orang, bumbu-bumbu olahan kami pakai cara sumbangan sukarela  anggota berupa bahan, demikianpun alat kerja yang digunakan lanjut Januarti, “kami meminjam ditetangga dan peralatan kerja milik anggota, hanya bahan dan alat yang tidak ada dikami yang harus kami beli dikios”, ungkapnya sambil menunjukkan daftar kontribusi anggota. Ia menambahkan, Swish team sudah memiliki pengurus sendiri yakni Maria Marsela Mellyana Yo sebagai Ketua, Fransiska Januati Sekretaris, Emilia Faujia Indah Bendahara, anggota Yudita Maria Dafrosa Nulle, Bernadeta Plewan, Maria Mikha Ella, Maria D. Yunita Poke, Margaretha Febiyanti Dua Ura, Marcelo A.F.B Liko, Saverius Diki Candra Lay dan Hendrikus Nong Dewa.

Ketika diminta tanggapannya terkait manfaat bagi dirinya kegiatan praktek pengolahan perkedel dan sate ikan lilit ini, ia mengatakan  “hasil racikan kami sangat enak, bahan-bahan dan penyedap rasanya sudah pas, pokoknya hasil olahan kami sangat luar biasa walaupun baru permulaan, buktinya pelanggan dikampung kami sangat banyak yang berminat dengan olahan kami. pokoknya luar biasa pak, ungkapnya dengan semangat.

Januati mengharapkan “semoga kedepannya tim kami lebih baik lagi untuk mengelolanya, agar memuaskan pelanggan”  Ia mengaku belum terlalu terampil, “saya masih belajar dari teman-teman dan ini juga baru permulaan, tetapi saya yakin untuk kedepannya saya pasti bisa untuk mengelola sendiri, jelas Ati begitu ia biasa disapa dengan perasaan optimis.

Ketika dikonfirmasi kapan ia memulai usaha pengolahan pribadinya, Ati menjelskan “Saya bisa memulai kapan saja jika saya sudah mahir mengelola bahan-bahan ini dan sudah memiliki modal usaha yang cukup”.  Untuk diketahui Ati memiliki ketrampilan lain, selain dia aktif dalam swish team pengolahan ikan, ia juga aktif menekuni usaha jasa penjualan online. Tidak hanya itu Ati memiliki karakter suka berbagi kepada sesama, “Orang yang sukses tidak selamanya serjana, Asalkan kita yakin dan mencintai apapun pekerjaan kita dan tidak gengsi dengan pekerjaan itu.Karena Pemulung pun bisa sukses tanpa berijasah,#Pemuda Mandiri #Semangat” tulis Ati dalam akun facebook  miliknya dimana Ati juga sebagai admin group facebook Pemuda Mandiri Watumilok.

Sementara itu, Suryanti Odilia Rato selaku staf pendamping program Mata Kail Bengkel APPeK NTT yang juga hadir mendampingi praktek pengolahan perkedel ikan dan sate ikan lilit mengatakan, swish team  ini sebelum mereka melakukan praktek hari ini, sudah 2 kali mereka melakukan pertemuan bersama untuk memantapkan kegiatan hari ini, awalnya lanjut Anty, mereka mau buat pentolan bakso ikan untuk dijual dipasar desa, namun mengalami kendala peralatan  seperti dandang untuk menyimpan pentolan, sehingga mereka bersepakat untuk berinovasi membuat olahan jenis lain yang hari ini mereka praktekan perkedel dan sate ikan lilit, ungkap Anty.

Untuk diketahui Swishteam ini merupakan cikal bakal dari peserta Diskusi kelompok dalam pelatihan Softskil Kewirausahaan 15 Agustus 2020 yang berjumlah 11 orang dan berinisiatif membentuk tim sendiri karena punya minat yang sama. “Kami diskusi sendiri pak setelah Pulang kegiatan pelatihan kemarin, ungkap Melan.(largus)

Author: Bengkel AppekEmail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Tentang Kami

Bengkel APPeK (Bengkel Advokasi Pengembangan dan Pemberdayaan Kampung) adalah Sebuah Organisasi Berbadan Hukum Perkumpulan dan Bersifat Nirlaba yang Melakukan Fasilitasi dan Implementasi Langsung  dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat Rentan, Perempuan dan anak pada Komunitas Desa-Kelurahan dan Pengembangan TKLD di Berbagai Level, dengan dukungan sumber daya yang berasal dari Iuran Anggota, Dana Hibah dari Berbagai Sumber Baik Lokal, Nasional dan Internasional (Kecuali Dana Hutang Luar Negeri) serta memiliki Wilayah Kerja di Regional Nusa Tenggara.

Bengkel APPeK Social Media