Berita

“Saya mengajak anak muda Desa Kolontobo untuk bergabung bersama para bidan di kegiatan Posyandu, agar olahan ikan dijadikan sebagai menu PMT (Pemberian Makanan Tambahan) saat posyandu bagi batita dan balita sehingga menjadi variasi makanan setiap bulan.” Ujar Yuliana Jaiman perawat Pustu Kolontobo di sela-sela kegiatan praktek pengolahan ikan di Desa Kolontobo Kecamatan Ile Ape Kabupaten Lembata, sabtu, 5 September 2020 lalu.  

Foto: Nia/Anak muda Desa Kolontobo melakukan pengolahan Bakso Ikan Sabtu, (05/09/20)

Praktek pengolahan Ikan ini dilakukan oleh 27 Anak Muda yang dibagi dalam 3 kelompok pengolahan seperti saltona (sambal tomat ikan tuna), bakso ikan, dan sate siput. Pelaksanaan prkatek ini atas dorongan fasilitator pelatihan manajemen kewirausahaan dengan menggunakan waktu jedah pelatihan yang diselenggarakan Bengkel APPeK NTT bekerja sama Yayasan Plan International Indonesia, Kopernik atas pendanaan Uni Eropa pada tanggal 1-5 september 2020 di Aula Pertemuan Kantor Desa Kolontobo.

Monika Debora dari Bidang Desain dan Pengolahan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lembata selaku pembimbing pengolahan menegaskan “Pengolahan Ikan ini tidak boleh menggunakan MSG (Monosodium Glutamat) seperti Ajinomoto, sehingga semua kalangan dapat mengkonsumsi makanan yang kita olah,  kita juga ingin menciptakan olahan yang tidak hanya enak tapi juga sehat bagi tubuh yang berkontribusi pada peningkatan asupan gizi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dalam pengurangan angka stunting.” Ungkap monika.

“Masako juga jangan dipakai yah selain karena masako juga mengandung MSG, disini kita membuat olahan berbahan dasar ikan sedangkan masako cuma punya dua rasa yakni sapi dan ayam, masako tidak ada rasa ikan jadi kita jangan pakai.” jelas Monika kepada 27 Anak Muda yang terlibat dalam praktek pengolahan berbahan baku ikan ini. 

Lebih lanjut ia menjelaskan, “olahan lokal berbahan dasar ikan merupakan sebuah upaya memanfaatkan sumber daya laut yang ada sebagai ciri khas olahan tanpa MSG sehingga menghadirkan rasa yang berbeda dari masakan kebanyakan orang, sehingga dapat memicu warga desa untuk segera merasakan kenikmatan bakso ikan, saltona, dan sate siput”.

Foto Nia/Olahan Pentolan Bakso Ikan Pemuda Kolontobo

Sementara itu, Frederich Beni (30) selaku relawan Program MATA KAIL Desa Kolontobo pada kesempatan yang sama mengungkapkan “terima kasih atas upaya yang telah dilakukan tim Bengkel APPeK, hasil olahan ini nantinya akan dipamerkan dan dijual, uang dari hasil jualan dipakai sebagai modal awal membangun bisnis anak muda desa Kolontobo, kami sudah tahu resepnya, mulai minggu depan kami berencana untuk menjual hasil olahan kami di pantai Ohe Wewa Belen untuk dinikmati para pengunjung pantai. Yang kami inginkan bukan event tapi aktivitas berkelanjutan setiap hari minggu di Pantai Ohe.” Ungkap Frederich kepada www//bengkelappek.com  

Untuk diketahui, praktek pengolahan ini merupakan kegiatan inisiatif peserta pelatihan yang dibiayai secara swadaya peserta pelatihan manajemen kewirausahaan. Dimana program MATA KAIL sebagai program pemberdayaan segmen masyarakat dalam mewujudkan 2.000 anak muda usia 15-29 tahun agar memiliki keahlian kewirausahaan,  pengelolaan ikan berkelanjutan, mempromosikan makan ikan yang berkontribusi pada peningkatan asupan gizi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dalam pengurangan angka stunting, dengan strategi pelaksanaan antara lain melalui pendampingan, pelatihan soft skil, pelatihan manajemen kewirausahaan. (niatani/largusogot)

 

 

Author: Bengkel AppekEmail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Tentang Kami

Bengkel APPeK (Bengkel Advokasi Pengembangan dan Pemberdayaan Kampung) adalah Sebuah Organisasi Berbadan Hukum Perkumpulan dan Bersifat Nirlaba yang Melakukan Fasilitasi dan Implementasi Langsung  dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat Rentan, Perempuan dan anak pada Komunitas Desa-Kelurahan dan Pengembangan TKLD di Berbagai Level, dengan dukungan sumber daya yang berasal dari Iuran Anggota, Dana Hibah dari Berbagai Sumber Baik Lokal, Nasional dan Internasional (Kecuali Dana Hutang Luar Negeri) serta memiliki Wilayah Kerja di Regional Nusa Tenggara.

Bengkel APPeK Social Media