Berita

Semangat belajar dalam berwirausaha nampak terlihat pada 27 wajah anak muda Desa Kolontobo Kecamatan Ile Ape Kabupaten Lembata, mereka mengaku baru pertama kali mengikuti pelatihan kewirausahaan di bidang perikanan dan kelautan.

Foto Nia//Anak Muda Kolontobo Saat Melayani Pesanan Pelanggan di Lokasi Penjualan Hasil Olahan (13/9/2020)

“pelatihan manajemen kewirausahaan pertama kali yang pernah kami ikuti dan kami bersyukur bisa mengikuti pelatihan ini sehingga menambah pengetahuan kami serta kami bisa memanfaatkan sumber daya yang ada  untuk menambah penghasilan dan mencapai tujuan hidup kami.” Ungkap Elisabet Endang (28) peserta pelatihan manajemen kewirausahaan (01/09/20) lalu di Kantor Desa Kolontobo, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata.

Pelatihan ini dilaksanakan selama 5 hari dengan melibatkan 27 orang anak muda desa Kolontobo yang meliputi perempuan 18 orang dan laki-laki 9 orang. Materi yang disampaikan dalam pelatihan ini, diantaranya penetapan visi 5 tahunan, langkah perubahan pencapaian visi, bisnis yang cocok untuk anak muda, memahami proses produksi, analisa usaha dan pembiayaan, sistem pencatatan keuangan usaha, resiko  dan antisipasi penanganan, praktek pengolahan ikan, dan penandatangana komitmen pribadi.

Pelatihan diselenggarakan oleh Bengkel APPeK NTT bekerja sama dengan Yayasan Plan International Indonesia, Kopernik atas pendanaan Uni Eropa melalui program Mata Kail (Mari Kita Kreatif Agar Ikan Lestari). 

Modesta Soman (30) salah satu peserta pelatihan manajemen kewirausahaan mengungkapkan, “saya memilih ide bisnis usaha bakso ikan dengan target pasar semua kalangan yang mengunjungi pantai wisata Wewa Belen Desa Kolontobo, ide bisnis ini saya pilih untuk dapat mencapai visi hidup saya di 5 tahun mendatang yakni 12 kamar kos-kosan”

Foto Bernadete//Anak Muda Kolontobo Melakukan Proses Produksi Sate Siput Secara Sederhana (13/9/2020)

Semnetara itu Vinsensius Bureni, Selaku Fasilitator Pelatihan ketika ditemui di kantornya (13/10/2020) mengaku bangga, ia beralasan bahwa pada sesi terkahir pelatihan peserta pelatihan menyepakati sejumlah rencana tindaklanjut, salah satunya adalah penjualan hasil olahan ikan di lokasi wisata Wewa Belen Desa Kolontobo. Pasca Pelatihan, kelompok Anak Muda melakukan penjualan bakso ikan, ketika itu saya memantau langsung proses pemasaran mereka, ungkap Vinsen.

Senada dengan itu, Elvi Making (27) saat dihubungi melalui telepon selulernya senin siang 13/10/2020 mengatakan “ pada minggu pertama setelah pelatihan, tepatnya tanggal 13 September 2020 kami melakukan penjualan olahan ikan berupa bakso ikan, sate siput, putu ikan, lawar ikan, lawar siput, ikan bakar, es campur, sayur rumpu rampe serta pisang goreng, Penjulannya dilakukan di lokasi wisata Wewa Belen Desa Kolontobo, karena saat itu pengunjung belum banyak akhirnya kami lakukan penjualan dari rumah ke rumah di desa kami Kolontobo, sehingga saat itu kami memperoleh hasil Rp 600.000”

Anak Muda lainnya Bernadete Gelu Tede Making (19) saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya menambahkan, “kami lakukan penjualan sudah 3 kali, penjualan pertama hasilnya Rp 600.000, penjualan kedua Rp 900.000 dan penjualan ketiga Rp Rp 900.000 lebih, sehingga total penjualan kami saat ini sudah mencapai Rp 2.400.000 lebih” ketika ditanya sumber modal awal, Bernadete mengungkapkan “modal awal yang kami pakai adalah Rp 380.000 yang bersumber dari hasil penjualan praktek penglolaan ikan saat pelatihan manajemen kewirausahaan di kantor desa”

Foto Lensa Nusantara//Pemajangan Produk Olahan Di Gedung Taman Baca Lokasi Wisata Pantai Wewa Belen Kolontobo (13/9/2020)

Bernadete, tamatan SMK Jurusan Teknik bangun ini, tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke Perguruan tinggi, karena keterbatasan biaya, ia mengaku hendak menekuni usaha Ikan Bakar untuk menabung dan bisa memenuhi impiannya melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi. “saya mau lanjut kuliah kaka, tapi biaya tidak ada makanya saya mau tekuni usaha ikan bakar dulu untuk menabung, saya tidak malu kaka, yang penting halal”, ungkapnya dengan percaya diri.

Koordinator Umum Bengkel APPeK NTT Vinsensius Bureni, saat dimintai komentarnya mengatakan  “saya bangga pada anak-anak muda kolontobo, mereka sudah memulai usahanya, hasil jualan olahan Rp 2.400.000 selama 3 kali pejualan bukanlah hal muda, semoga capaian ini dapat menambah semangat mereka, dan melanjutkan usaha mereka di lokasi wisata yang menjadi lokasi pemasaran olahan mereka, saya berharap, lanjut Vinsen “agar kiranya Pemerintah Desa Kolontobo atau Pemerintah Kabupaten Lembata berkenan mendukung usaha Anak Muda ini sebagai pemula dalam UMKM guna mendukung pergerakan ekonomi masyarakat dan pertumbuhan ekonomi tingkat Desa Kolontobo.” Katanya.  (largus ogot/nia tani)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Author: Bengkel AppekEmail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Tentang Kami

Bengkel APPeK (Bengkel Advokasi Pengembangan dan Pemberdayaan Kampung) adalah Sebuah Organisasi Berbadan Hukum Perkumpulan dan Bersifat Nirlaba yang Melakukan Fasilitasi dan Implementasi Langsung  dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat Rentan, Perempuan dan anak pada Komunitas Desa-Kelurahan dan Pengembangan TKLD di Berbagai Level, dengan dukungan sumber daya yang berasal dari Iuran Anggota, Dana Hibah dari Berbagai Sumber Baik Lokal, Nasional dan Internasional (Kecuali Dana Hutang Luar Negeri) serta memiliki Wilayah Kerja di Regional Nusa Tenggara.

Bengkel APPeK Social Media