Berita

Profil UMKM Anak Muda 

Laporan Asernov Pellu

Nur Ayna (22) Asal Desa Nangahale Kecamatan Talibura Kabupaten Sikka terbilang salahsatu sosok perempuan muda yang berani dan piawai menjalankan usahanya. Pada tahun 2016 Ia berani memutuskan untuk mandiri menjalankan usaha jual ikan kering di 6 pasar rakyat di wilayah Sikka.  Nur begitu ia biasa disapa, berani meminjam uang dari orang tuanya senilai Rp 5.000.000 sebagai modal awal untuk memulai usaha pribadinya. Keputusan Nur cukup beralasan, ia lakukan itu setelah sebelumnya ia aktif mengikuti usaha  dari kedua orangtuanya menjual ikan kering di Pasar Tradisional. Nur tamatan SMA dan kini sedang menunggu diwisuda di salahsatu Perguruan Tinggi di Maumere, merasa tertarik dan peluangnya sangat menjanjikan baginya. Niat dan kemauan yang tinggi, membuat Nur mulai membuktikan tekadnya, modal yang dia peroleh dari orangtuanya, ia gunakan untuk membeli ikan kering 50 kg di Pasar Senja Wuring Kecamatan Alok Barat Kabupaten Sikka.

Nur Saat Melayani Pelanggannya Di Pasar Talibura. Foto Asernov Sabtu Siang (24/10/2020)

Selama menjalankan usaha tersebut, Nur tidak pernah melakukan pencatatan uang keluar maupun uang masuk, ia jalankan usahanya bak air mengalir. Meski demikian, Nur memahami bahwa usaha yang ia jalankan, penghasilannya sudah melebihi modal yang ia belanjakan diawal memulai usahanya. Nur mengaku “pada saat pertama kali saya menekuni usaha jualan ikan kering, penghasilan saya mencapai Rp 500.000 pada setiap hari pasar” ungkapnya

Tahun 2018, ketika tim Program Mata Kail mulai melakukan perekrutan anak muda sebagai penerima manfaat, Nur memenuhi syarat dan bisa mengikuti kegiatan pelatihan Soft Skill Kewirausahaan dan manajemen kewirausahaan yang diselenggarakan oleh Bengkel APPeK NTT kerja sama Plan International Indonesia, Kopernik yang didanai Uni Eropa.

Melalui pelatihan Manajemen Kewirausahaan, Nur menetapkan visi 5 tahunannya dengan menjadi distributor ikan kering. Nur telah melakukan analisis usahanya dan dari hasil analisis tersebut akhirnya Nur bisa mengetahui hasil penjualan dan keuntungan dalam satu kali menjual ikan kering/distributor ikan kering yang pada akhirnya ia merasa tertarik untuk mengembangkan usahanya tersebut dengan ketrampilan yang dimilikinya.

Sampai saat ini Nur berjualan di 6 pasar tradisional pada hari pasar yaitu hari senin pasar Boruk, hari selasa pasar Oka, hari rabu pasar Oka, hari Kamis pasar Waigete, jumat pasar Geliting, hari sabtu pasar Rakyat Talibura. Disetiap pasar tersebut tempat usahanya/stand usaha tersebut sudah menjadi milik sendiri.

Ikan yang Nur beli diolah lagi dengan cara memisahkan ikan-ikan yang berukuran kecil, sedang dan besar kemudian ditimbang ulang. Ikan halus biasanya dibeli mencapai 500 kg sedangkan ikan kecil, sedang dan ikan besar biasanya dibeli dalam bentuk bal dengan berbagai macam jenis ikan. Harga jual ikan kering milik Nur terbilang terjangkau berkisar Rp 38.000-45.000 per kg tergantung jenis ikan.

Saat berdiskusi bersama dengan Asernov Pellu Pendamping Lapangan program Mata Kail, beberapa waktu lalu, Nur mengungkapkan “hasil jual ikan kering yang saya jalankan berbeda–beda setiap hari pasar, misalnya lanjut Nur, sekali jualan di Pasar Boruk penghasilan bersihnya mencapai Rp 1.500.000, pasar Oka mencapai Rp 4.000.000, pasar Talibura mencapai Rp 350.000, pasar Waigete mencapai Rp 200.000, pasar Geliting mencapai Rp 500.000”

“Saat ini saya sudah bisa menyediakan ikan kering untuk dijual sudah mencapai 1.500 Kg dalam seminggu, hasil usaha ini bisa mencukupi kebutuhan saya tanpa mengharapkan uang dari orang tua, ujarnya.

Nur mempersiapkan Barang Jualannya Sesaat Sebelum Menuju Ke Pasar Talibura, Foto Asernov Jumat,( 23/10/2020)

Nur mengaku, Program Mata Kail juga membagikan banyak ilmu tentang memulai dan menekuni usaha yang saya jalani. Saya ikuti Program Mata Kail, banyak yang saya pelajari bagaimana dengan usaha  yang kita kelola, agar jujur, tekun, bekerja keras, dan bertanggungjawab.

Nur mengaku dengan adanya program Mata Kail, “saya bersyukur karena diajarkan bagaimana berwirausaha yang baik dari cara berwirausaha sebelumnya". 

Ketika dimintai komentarnya tentang bagaimana menghadapi tantangan, ia mengatakan “bahwa yang namanya tantangan pasti selalu ada entah itu usaha besar ataupun usaha kecil. Untuk menghadapi atau menyikapi tantangan tersebut adalah mencari jalan keluar dengan tetap bersikap santai dan tidak gegabah.

Nur berharap “kedepannya saya bisa bekerja sama dengan pengusaha ikan kering dari berbagai wilayah dan saya bisa menjadi salah satu distributor sehingga usaha saya berkembang dan sukses dikenal banyak orang, dan jujur pak, "saya ingin memiliki gudang ikan sendiri". Lebih lanjut Nur mengharapkan agar pihak pemerintah dapat melihat dan memberikan bantuan atau dana untuk kelancaran usahanya.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada Bengkel APPeK NTT, saya bisa belajar dan mendapat banyak pengetahuan tentang berwirausahaa, saya berharap kiranya diberikan dana atau bantuan untuk meningkatkan usaha saya" Harap Nur.  *largus/asernov*

Author: Bengkel AppekEmail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Tentang Kami

Bengkel APPeK (Bengkel Advokasi Pengembangan dan Pemberdayaan Kampung) adalah Sebuah Organisasi Berbadan Hukum Perkumpulan dan Bersifat Nirlaba yang Melakukan Fasilitasi dan Implementasi Langsung  dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat Rentan, Perempuan dan anak pada Komunitas Desa-Kelurahan dan Pengembangan TKLD di Berbagai Level, dengan dukungan sumber daya yang berasal dari Iuran Anggota, Dana Hibah dari Berbagai Sumber Baik Lokal, Nasional dan Internasional (Kecuali Dana Hutang Luar Negeri) serta memiliki Wilayah Kerja di Regional Nusa Tenggara.

Bengkel APPeK Social Media