Berita

Sriwahyuni Nurdin (24 Thn)

Pelaku Usaha MudaDesa Udiworowatu Kabupaten Nagekeo NTT

Tenang, santai, hemat bicara dan murah senyum, kira-kira itulah sepintas kesan pertama karakter yang diperlihatkan Sriwahyuni Nurdin (24), seorang anak muda pelaku usaha pemula asal Desa Udiworowatu Kecamatan Keo Tengah Kabupaten Nagekeo NTT, ketika menerima kunjungan tim monitoring Bengkel APPeK NTT di lokasi usahanya Rabu, 25 Nopember 2020 silam.

Disela-sela kesibukkan melayani pelanggan, Yuni begitu ia biasa disapa nampak ramah menerima kehadiran tim Bengkel APPeK di warung miliknya. “mari om, silahkan masuk” ujarnya menyambut kedatangan kami,  maklum, yang datang bukanlah tamu asing baginya. Ditengah kesibukan melayani pesanan pelanggan, sesekali ia menjawab pertanyaan kami dan bahkan sempat berdialog singkat dengannya.  

Meskipun Yuni irit bicara, namun mampu mengisahkan lika liku dalam menjalankan usahanya sejak awal hingga saat ini. Yuni anak pertama dari 4 bersaudara ini kepada bengkel.appek.org mengisahkan, sempat usaha jual gorengan, namun penghasilannya tidak mencukupi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut membuat Yuni harus mencari pekerjaan lain di Kota Bajawa. Di Bajawa Yuni bekerja dengan seorang pengusaha gado-gado yang juga bibinya. Selama 2 bulan ia bekerja, penghasilan yang diperoleh tetap tidak mencukupi kebutuhan sehari-harinya.

Selama berkeja selalu terlintas dalam pemikiran Yuni, bahwa ia memperoleh uang hanya pada akhir bulan saja dan ujung-ujungnya pasti pulang ke kampung. “Sempat mencari kerja di kota bajawa om, tapi saya pikir-pikir sama saja, penghasilanya sekali sebulan, kebutuhan tidak cukup” ujar Yuni.

Selama 2 bulan bekerja di bajawa, Yuni belajar banyak dari bibinya bagaimana membuat gado-gado. Karena alasan tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, akhirnya Yuni memutuskan kembali ke kampungnya di Udiworowatu Keo Tengah Nagekeo.

Di Udiworowatu, Yuni tercatat sebagai anak muda dalam Program Mata Kail Bengkel APPeK NTT Kerjasama YPII, Kopernik dan Uni Eropa. Selaku penerima manfaat Program, Yuni mulai terlibat dengan kegiatan program hingga mengikuti pelatihan soft skill kewirausahaan bulan februari 2020 silam.

Usai pelatihan, Yuni belum sempat memulai usaha, karena bersamaan dengan situasi pandemic covid 19. Selama Pandemi, Yuni hanya berada dalam rumah dan menekuni usaha kerajinan menenun. Ketika itu, Yuni belum memikirkan untuk mengembangkan usaha baru, ia hanya fokus menekuni tenunanya.

Seiring berjalannya waktu, materi pelatihan sofskill kewirausahaan masih segar dalam ingatan Yuni. “Setelah saya ikut kegiatan itu, dapat bermanfaat buat saya, alhamdulilah memberi motivasi buat saya, sebelumnya saya tidak punya pemikiran untuk buat jualan, pinginnya di rumah saja menenun.

Setelah saya pikir-pikir, ada pengalaman pernah belajar sama bibi jual gado-gado, uang  hasil tenun, diolah buat apa, ya saya tidak mau hambur-hambur lagi,  saya olah, saya jualan gado-gado, selagi ada uang sendiri tidak pinjam pada siapa-siapa, ya sudah, mendingan saya usaha gado-gado saja, ujarnya.

Keputusan Yuni untuk menjalankan ide bisnis usaha gado-gado cukup beralasan, pengalaman saat bekerja di Bajawa beberapa waktu menjadikan modal untuk memantapkan pemgembangan usahanya.

Selain usaha gado-gado, Yuni juga bersama orang tuanya menjual ikan segar dan kerap kali melayani pesanan nasi ikan apabila ada pelanggan yang memintanya.

“kalau gado-gado habis, saya bantu-bantu mama jual ikan om” ujar Yuni. Usaha gado-gado ini lanjut Yuni, saya mulai sejak 3 bulan lalu sekitar bulan September 2020. Saya kembangkan usaha ini karena kepingin punya penghasilan lebih.

Yuni mengaku bahwa usaha gado-gado ini saya punya ide sendiri setelah ikut pelatihan, saya lakukan setiap hari kalau tidak ada halangan. Pondok dan peralatan ini saya minta sendiri sama om saya untuk buat, ungkapnya.

Pemudi 24 tahun ini terbilang piawai memanfaatkan potensi dalam dirinya, Ia mengaku “modal awal saya Rp 1.850.000 yang bersumber dari jualan kue dan hasil tenun, uang ini saya gunakan untuk bangun pondok, gerobak jualan dan pembelian bahan jualan”.

Setelah saya menjalankan kegiatan usaha ini, saya tidak sempat mengikuti kegiatan hardskill kewirausahaan bersama Bengkel APPeK karena sibuk dengan banyaknya pesanan pelanggan, ujar Yuni.

Alhamdulilah lumayan lancar, selama 3 bulan menjalankan usaha ini, sudah kembali modal. Kalau rame Rp 280.000, kalau sepih Rp 150.000 per hari, sehingga nilai tabungan juga rata-rata Rp 100.000-Rp 200.000 per hari tergantung pelanggan, selebihnya menjadi modal untuk belanja bahan besoknya” ungkap Yuni.

Yuni nampak optimis dalam dirinya, ia masih ingin kembangkan usaha lebih besar lagi berupa warung makan bakso ikan, namun niat itu masih urung karena sudah ada kawannya yang sedang menekuni warung bakso.

Obsesi Yuni cukup beralasan, Udiworowatu tempat Yuni menjalankan usaha, letaknya terbilang sangat strategis, berada dipinggir jalan negara, desanya sebagai pusat aktivitas Pemerintahan Kecamatan Keo Tengah bahkan pasar Maunori tidak jauh dari tempat Yuni melakukan kegiatan usaha.

Saat ini, Yuni memiliki pelanggan tetap. “Saya punya pelangan tetap om, BPD sama Puskesmas, setiap hari pelanggan saya rata-rata memesan 5 bungkus, kalau pelanggan lagi kegiatan, mereka pesan hingga 15 bungkus. Saya juga layani nasi ikan kalau ada yang pesan baru bisa dilayani dan antar sendiri”, ungkapnya.

Kesibukkan Yuni dalam menjalankan usaha terbilang menguras tenaga dan waktu, saat-saat tertentu ia kewalahan “Saya mengerjakan ini sendirian, kalau rame dibantu sama mama, kepingin punya teman yang bantu, sempat pernah ajak tapi tidak mau padahal saya kepingin kasih yang terbaik buat teman itu” ujarnya.

Dalam menekuni usaha gado-gado, dan layanan pesan nasi ikan dari pelanggan, Yuni yang berpendidikan sekolah dasar ini pun kerap mengalami tantangan. “Tantangan saya, pada saat antar pesanan, tidak ada yang bantu, kalau tidak ada ojek terpaksa jalan kaki antar pesanan pelanggan” ujarnya.

Saya beruntung karena, setiap petugas Bengkel APPeK datang ke saya, saya mendapat dukungan, saya mendapat motivasi, jadi motivasi terbaik buat saya, dengan kesulitan ini, saya tetap bertahan, maju terus dan tidak mau mundur” ujarnya mantap. Yuni berharap agar Bengkel APPeK selalu membantu dan mendukung usaha yang dia geluti saat ini. 

 

 

Penulis : Largus Ogot

,

Author: Bengkel AppekEmail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Tentang Kami

Bengkel APPeK (Bengkel Advokasi Pengembangan dan Pemberdayaan Kampung) adalah Sebuah Organisasi Berbadan Hukum Perkumpulan dan Bersifat Nirlaba yang Melakukan Fasilitasi dan Implementasi Langsung  dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat Rentan, Perempuan dan anak pada Komunitas Desa-Kelurahan dan Pengembangan TKLD di Berbagai Level, dengan dukungan sumber daya yang berasal dari Iuran Anggota, Dana Hibah dari Berbagai Sumber Baik Lokal, Nasional dan Internasional (Kecuali Dana Hutang Luar Negeri) serta memiliki Wilayah Kerja di Regional Nusa Tenggara.

Bengkel APPeK Social Media