"NAMAMU ANEH"

Oleh; Gantur O. Liem
Staf Bengkel APPeK NTT

“Bengkel appek, nama yang aneh bagi saya”. Kira-kira itulah kesan pertama kali ketika saya mendengar dua suku kata itu. Januari 2013 adalah tahun awal saya bergabung dengan Bengkel APPeK NTT, ketika itu ia masih berusia 7 tahun dan masih kategori anak. Kala itu keiginan saya untuk bekerja sangat tinggi sehingga memberanikan diri, saya kemudian melamar ke rumah yang baru berusia 7 tahun itu.

Januari 2013, sebuah awal perkenalan yang indah, tepat saya bergabung.  Bagi saya aneh juga, kok namanya bengkel, tapi urusannya kemanusiaan, sudah begitu appek  lagi. Sesuatu yang sangat sulit bagi saya untuk disinkronkan artinya kalau dimaknai secara lurus melalui tata bahasa Indonesia baku.

Foto Gantur; Kegiatan Diskusi Kampung Bersama Forum Perempuan Desa Nunsaen Kec. Fatuleu Tengah Kab. Kupang NTT (Mey 2013)

Keanehan ini memacu saya untuk mengenal dan mengetahui apa sebenarnya makna dari 2 kata ini, sebagai staf baru. Kala itu saya bersama 7 teman lainnya Arifin, Ida, Vitus, Esthon, Yoke, Anggi, dan Ika seagkatan masuk dalam program "Pendidikan Pemilih" kerja sama Bengkel Appek NTT dengan The Asia Foundation, kami harus melewati tahap perkenalan lembaga. Dua orang staf lama yaitu Anggi yang sekarang menjadi istri saya adalah tempat pelarian kami untuk bercerita dan berbagi tentang 2 kata tadi, termasuk Ika juga sebagai staf lama menjadi sasaran untuk bertanya banyak hal.

Rasa penasaran dan ingin tau saya semakin terobati ketika kami dibimbing dan diajarkan oleh para senior ada Om Vincent, Om Enso, Om Tarsi dan Ibu Tres yang memberi kami informasi banyak hal tentang makna 2 kata tadi. Diantaranya nilai dan segala peraturannya menjadi konsekwensi yang harus dijalankn oleh setiap staf baik dalam lembaga maupun pada saat melaksanakan kegiatan lapangan.

Program pendidikan pemilih adalah sebuah program yang mempromosikan hak-hak politik rakyat khususnya perempuan, dan inilah titik awal saya belajar dan berkarya bagaimana mendaratkan hal tersebut di kampung-kampung.

Sangat sulit bagi saya karena memang, saya sendiri saat itu memandang politik itu hanya urusan para elit semata, bukan kita. Sementara yang kami dampingi adalah ibu-ibu di desa dengan asumsi saya bahwa lebih tidak mau untuk berdiskusi tentang politik itu sendiri.

Sambil jalan sambil belajar, itulah kira-kira saya menempatkan diri ketika itu. Penguatan kapasitas bagi kami staf terus berjalan hingga pada posisi penempatan ke tempat tugas masing-masing. Dalam pikiran saya ketika itu bahwa pekerjaan ini sangat tidak relevan dengan latar belakang pendidikan saya. Namun karena punya modal tekad dan komitmen akhirnya sayapun menyatakan siap untuk mengabdi ke tempat tugas. Ada 4 Desa yang saya harus damping yakni Desa Nunsaen, Desa Passi, Desa Oelbiteno dan Desa Nonbaun Kecamatan Fatuleu Tengah Kabupaten Kupang NTT. Penempatan saya di wilayah ini bagi saya sangat berat medannya dan sangat tidak mungkin, apalagi saya sudah terbiasa hidup di kota, namun apa mau dikata, saya harus jalani.

Memasuki maret 2013, saya harus memulai hal baru bagaimana memfasilitasi kegiatan di 4 Desa tersebut. Koordinasi tingkat Kecamatan sampai ke tingkat Desa saya lakukan sendiri bermodalkan pembekalan yang diberikan oleh senior-senior lembaga. Semangat pantang menyerah dan rasa optimis adalah modal terbesar yang selalu ada dalam hati. Hujan, lumpur dan jalan yang berbatu sama sekali tidak mematahkan semangat saya. Sebagai orang Timor yang juga dari kampung harus kembali ke kampung-kampung untuk menumbuhkan kesadaran kaum perempuan tentang pentingnya politik serta hak dalam menentukan pilihan.

Fase pengorganisasian dalam desa pun berjalan. Saya harus bisa menemukan 20 orang perempuan di setiap desa untuk bergabung dalam kelompok diskusi atau istilah kerennya identifikasi aktor perempuan perubahan di setiap desa. Kala itu saya sangat sulit karena kaum ibu-ibu di desa tidak mau karena bagi mereka urusan politik adalah urusan bapak- bapak saja.

Tantangan ini membuat saya untuk tidak tinggal diam, saya terus berusaha dan melaporkan ke lembaga. Saran dan berbagai masukan saya terima dari para senior. Satu kalimat dari Om Vincent waktu itu yang terus  saya ingat sampai saat ini, tepat hari juma,at persis di bawah pohon johar depan kantor “libatkan orang-orang kunci di Desa dan bila perlu kunjungi ke rumah orang yang menjadi sasaran, ajak dia dan bangunlah diskusi seperti anak dan orang tua, pasti bisa” ujar Om Vinsen ketika itu. Kata-kata itu saya coba praktekan, alhasil satu minggu kemudian saya berhasil mengajak ibu-ibu dan bahkan lengkap sesuai target untuk menjadi komunitas diskusi kampung secara rutin setiap bulan, diskusi kampungpun sudah mulai berjalan.

Yang tadinya suatu hal baru bagi saya dan juga bagi ibu-ibu di desa sudah mulai dilalui. Kadang ada canda dan tawa kami lalui bersama. Kesadaran akan hak mereka sebagai kaum perempuan terus tumbuh dan perlahan lahan terlihat sekat primuldialisme yang mengakar mereka mulai tinggalkan. Mereka mulai sadar tentang memilih dan menentukan pilihan bukan sekedar berpartisipasi dalam memilih atau bukan juga kewajiban tetapi itu hak bagi mereka untuk menentukan pilihan. Tingkat partisipasi kaum perempuan dalam diskusi di setiap desa terus meningkat, dan bukan hanya itu saja, bapak-bapak juga terlibat dalam setiap diskusi.

Monitoring dan evaluasi dari lembaga terus dilakukan. Sebagai staf baru kala itu. saya merasa canggung bagaimana mungkin dia yang baru berumur 7 tahun begitu mau membuktikan kebenaran di lapangan tentang apa yang kami laporkan. Dan ternyata memang bukan hanya monev lapangan saja, namun pengelolaan keuangan internal lembaga pun saya merasakan bahwa saya juga adalah seperti tim monev.

Kami yang masih baru pun mengetahui semua alur keuangan di dalam lembaga, baik gaji  setiap staf maupun utang pinjaman pribadi staf juga, semua pasti tahu yang bagi saya waktu itu adalah utang pribadi adalah privasi seseorang, ternyata dugaan saya meleset. Saya akhirnya mengetahui alur keuangan lembaga termasuk anggaran masing-masing program. Bagi saya ini sangat ironis karena tidak saya dengar dan temukan di tempat lain apalagi Bengkel APPeK waktu itu masih berumur 7 tahun.

Hal-hal baru ini membuat kami staf program mulai saling berkompetensi kerja-kerja lapangan, salahsatunya berlomba-lomba penerapan nilai-nilai baru seperti transparansi keuangan kegiatan.

Waktu terus berjalan, tanda-tanda dampak kehadiran saya di desa, perlahan mulai terlihat. Kaum perempuan dampingan saya mulai bersuara, mereka bukan sekedar hadir saja tetapi sudah berani untuk menyampaikan pendapat ketika menghadiri musyawarah di Desanya.

Kesadaran kaum perempuan untuk memperjuangkan hak politiknya kian tumbuh dan berkembang. Menjadi moment terindah bagi saya, ketika Desa Nunsaen hendak mengadakan pemilihan Kepala Dusun baru pada bulan Agustus 2013.

Moment tersebut kelompok perempuan benar-benar menyadari hak politiknya. Mereka menyuarakan keterwakilan perempuan, dengan suara lantang mereka dalam forum musyawarah sehingga mengalahkan argumentasi banyak orang waktu itu. "Kalau partai Politik saja ada keterwakilan perempuan untuk calon DPR" mengapa untuk calon dusun di Desa tidak ada calon perempuan, sementara kami perempuan siap menjadi calon kepala dusun tidak diberi kesempatan” kira-kira demikian kalimat Ibu Welmince Suan yang sontak membuat forum rapat hening.. Suara lantang Ibu Welmince Suan akhirnya membuahkan hasil, ia ditetapkan sebagai salahsatu calon kepala dusun mewaikili kaum perempuan.

Usai penetapan calon kepala dusun, forum perempuan mulai gencar mengkampayekan calon dengan caranya sendiri. Mereka punya target adalah menang dan inigin mencatat sejarah baru di Desa sebagai perempuan pertama menjabat sebagai Kepala Dusun. Anggota forum perempuan tampil sebagai tampil sebagai team sukses, mereka gencar mengkampayekan trackrecord calon mereka untuk mengalahkan 2 calon lainnya.

Ketika hari pemilihan tiba, perjuangan hak politik perempuan Dusun Nunsaen ini membuahkan hasil, Ibu Welmince Suan tampil sebagai pemenang dan Kepala Dusun perempuan pertama kali di Desa Nunsaen. Tidak sampai di pemilihan kepala dusun saja, cita cita besar mereka, pada saatnya nanti Ibu Welmince Suan, mereka usulkan sebagai sebagai Calon Kepala Desa.

Yahh !!! inilah kebanggan saya pertama kali ketika saya berhasil membangun kesadaran politik perempuan di desa, yang semula saya ragu akan diri saya, namun berbagai pergumulan dan bimbingan para senior dan nilai-nilai yang diajarkan lembaga kepada saya, membuahkan hasil hingga kehadiran saya di desa dapat bermakna bagi sesama.

Kini nama aneh tersebut telah berusia 15 tahun, 8 tahun saya telah tumbuh bersamanya. Kisah kasih bersamanya teringat dan tertuang jelas dalam sanubariku. Begitu mendengar akan diberikan kesempatan untuk berekspresi di hari istimewa, maka sayapun dengan kaki yang tertatih tatih, saya mencoba mengambil HP mengetik dan menguraikan isi hati saya selama  8 tahun tumbuh bersama si pemilik nama aneh ini, si Bengkel Advokasi Pemberdayaan dan Pengembangan Kampung.

Waktu dan peradaban terus berjalan tetapi semangatmu tidak termakan waktu. Semoga engkau pemilik nama aneh tetap jaya dan terus bergerak, karena banyak kaum yang menanti kehadiranmu  di kampung-kampung.

Jaya selalu untukmu Bengkel APPeK NTT. Selamat Ulang Tahun ke 15.  

 

Editor : Largus Ogot

 

Author: Bengkel AppekEmail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.