Berita

Rumah Kami “Bengkel” APPeK

Oleh: Yahya Yoristo Abanat
Staf Bengkel APPeK NTT

Tanggal 26 Januari 2006, lahirlah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Nusa Tenggara Timur. Nama Lengkapnya adalah Perkumpulan “Bengkel” Advokasi Peberdayaan dan Pengembangan Kampung, nama panggilannya “Bengkel” APPeK. Namanya memang unik karena ada kata Bengkel dan sering dipanggil Bengkel, sehingga bagi yang belum mengenal tentunya akan cenderung berpikir bahwa tempat untuk service atau memperbaiki motor dan mobil yang rusak. Namun, Bengkel yang dimaksud disini adalah tempat untuk belajar, berbagi, berdiskusi bersama, tempat untuk memperbaiki yang sedang rusak di masyarakat, tempat untuk berdiskusi apa yang dibutuhkan masyarakat, khusunya masyarakat rentan (perempuan, anak dan disabilitas).

Foto; Doc Istimewa Bengkel APPeK NTT

Sejak berdirinya Bengkel APPeK, banyak orang yang bergabung menjadi bagian dari lembaga ini. Ada yang keluar, ada yang masuk dan ada yang bertahan sampai saat ini. 26 Januari 2021, kini Bengkel APPeK berusia 15 tahun, jika dibandingkan dengan umur manusia maka Bengkel APPeK sudah berusia Remaja. Banyak orang sudah mengenalmu Bengkel APPeK baik itu dikalangan masyarakat, LSM, akademisi, pemerintah Desa, Kecamatan, Kabupaten, Provinsi dan Pusat.

Saya secara pribadi baru bargabung tepatnya pada bulan Juli tahun 2014. Saya direkrut sebagai Pendamping Lapangan pada Satu Program yang berjudul "Penguatan kapasitas partisipasi perempuan dalam proses pemenuhan kebutuhan ekonomi, sosial dan politik perempuan di Kabupaten Kupang dan TTS NTT" Kerjasama Bengkel APPeK dan OXFAM.

Program ini awalnya dikoordinir oleh Pak Tarsianus Tani sebagai Program Officer dan dibantu oleh Pak Primus Ngeta sebagai Asisten Program, Ibu Maria Kurniawati sebagai Finance serta beberapa Pendamping Lapangan, antara lain Pak Arky Barros dan Pak Anselmus Koke yang bertugas di kabupaten Timor Tengah Selatan sedangkan ibu Desy Modjo, Santi Rassi dan saya Yoristo Abanat bertugas di Kabupaten Kupang.

Dengan staf yang komplit dan penuh semangat, kami pun siap untuk mengeksekusi kegiatan-kegiatan utama dalam program. Kegiatan awal adalah melakukan sosialisasi program dan lembaga kepada Pemerintah Desa serta calon anggota Forum Perempuan. Setelah kegiatan sosialisasi dilakukan, Selanjutnya adalah melakukan pengorganisasian serta penguatan kapasitas bagi Kelompok Forum Perempuan.

Awalnya Saya ditugaskan untuk mendampingi 4 Desa yang berada di 2 Kecamatan (Amarasi dan Amarasi Selatan) Kabupaten Kupang. Keempat desa tersebut yakni Desa Nekmese, Retraen dan Sahraen yang berada di Kecamatan Amarasi Selatan dan Desa Ponain yang berada di Kecamatan Amarasi. Tetapi kemudian kami melakukan rolling staf sehingga saya juga mendampingi beberapa desa selain 4 desa diatas,di kabupaten Kupang dan di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Sesuai dengan judul program diatas, jelas bahwa tugas kami sebagai Pendamping Lapangan adalah bagaimana agar perempuan bisa berpartisipasi dalam proses pembangunan yang ada di desa.

Tentunya bukan hal yang mudah, sebab mengorganisir para ibu-ibu yang notabenenya adalah sehari-hari selalu berurusan dengan dunia domestiknya yakni mengurus rumah tangga (memasak, mencuci, dll) untuk kemudian keluar dan tampil di depan publik menyuarakan kebutuhannya memanglah gampang-gampang sulit. Apalagi pendampingan yang dilakukan, bukanlah pendampingan yang sifatnya karikatif (pergi bagi barang lalu mengejar kuantitasnya) namun pola pendampingan yang disyaratkan adalah konsep pemberdayaan murni bagi masyarakat, khusunya ibu-ibu. Memang kalau dilihat dari jumlah desa yang didampingi oleh setiap Pendamping Lapangan, sedikit yakni berkisar antara 3 sampai dengan 4 Desa saja namun dilihat dari tanggungjawab maka cukup besar dan berat. Namun, itu wajib dan harus dilakukan oleh kami tim program.

Dengan berjalannya waktu, tidak dipungkiri bahwa  ada tantangan internal maupun eksternal dalam mendampingi kelompok Forum Perempuan. Tantangan internal antara lain, secara keanggotaan dalam forum perempuan tidaklah statis (ada yang keluar ada yang masuk), sebagian anggota Forum Perempuan masih beripikir bahwa kelompok yang dibentuk adalah kelompok yang diberikan bantuan (uang dan barang), sebagian kelompok Forum perempuan juga belum mampu menyuarakan kebutuhan mereka di forum-forum publik. Sedangkan tantangan eksternal adalah tidak semua Pemerintah Desa merespon secara penuh kebutuhan perempuan masuk dalam perencanaan dan penganggaran desa. Bukan saja pemerintah desa namun pemerintah daerah pun demikian. Sehingga inilah yang kemudian menjadi tantangan secara kelembagaan maupun secara pribadi dalam melakukan pengorganisasian warga.

Dibalik tantangan yang kami hadapi baik secara tim maupun individu, pesan moral yang membekas dalam ingatan saya sampai sekarang dari Koordinator Umum Bengkel APPeK, Pak Vinsen Bureni adalah “jangan mengeluh!! itu dinamikanya, tidur di sana (di desa), kalau lu disana dan bersama dengan mereka maka lu pasti tau apa yang dong alami dan apa yang dong butuh. Kalau sudah tau apa yang dong alami dan butuh maka diskusikan bersama untuk perjuangkan. Jika perjuangan berhasil, itu yang namanya advokasi, dan anda diberkati”.

Prinsip dan Nilai

Bengkel APPeK memiliki prinsip dan nilai yang kuat dan tetap dijaga sampai saat ini, antara lain, transparansi, akuntabilitas dan partisipatif. Masing-masing program akan melaporkan secara terbuka dan bertanggungjawab terkait pelaksaaan program dan pengelolaan keuangan pada saat rapat evaluasi yang dilakukan secara berkala dalam setiap tiga bulan sekali. Dalam rapat evaluasi tersebut, setiap orang diberikan hak untuk mengoreksi, memberikan komentar serta pandangan terhadap pelaksanaan program dan pengelolaan keuangan dari setiap program tersebut. Prinsip dan Nilai tidak hanya berlaku untuk internal lembaga tapi diterapkan juga di masyarakat khusunya komunitas dampingan.

Diskusi Kampung

Bengkel APPeK dengan ciri khas metode diskusinya yang dinamakan diskusi kampung inilah yang kemudian sebagai ruang untuk kami selalu berdiskusi dengan komunitas kami yang ada di desa. Diskusi Kampung ini yang dimanfaatkan untuk mendiskusikan berbagai macam persoalan yang ada dalam desa dan mendiskusikan kebutuhan-kebutuhan dasar kelompok rentan. Selanjutnya dari hasil diskusi kampung tersebut akan dirangkum dan diperjuangkan baik itu di musrenbangdus, musrenbangdes dan sampai musrenbangkab. Diskusi kampung ini biasanya dilakukan sekali dalam sebulan atau jika ada kebutuhan yang mendesak maka segera diaadakan diskusi kampung. Diskusi kampung ini juga sebagai ruang musyawarah mufakat dalam kelompok. 

Saya cukup mengenalmu Bengkel APPeK, saya banyak belajar, banyak mendaptkan pengalaman-pengalaman menarik dan bersamamu saya juga dapat berbagi kepada orang lain dari apa yang saya miliki. Nilai-nilaimu akan tetap ada dalam sanubariku.

Selamat Ulang Tahun untukmu Bengkel APPeK yang ke 15. Saya bangga dan bersyukur menjadi bagian darimu. Terus berjuang, berkarya dan menjadi inspirasi untuk banyak orang. Jaya Selalu. Tuhan Memberkati. ***

 

 Editor : Largus Ogot

 

Author: Bengkel AppekEmail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Tentang Kami

Bengkel APPeK (Bengkel Advokasi Pengembangan dan Pemberdayaan Kampung) adalah Sebuah Organisasi Berbadan Hukum Perkumpulan dan Bersifat Nirlaba yang Melakukan Fasilitasi dan Implementasi Langsung  dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat Rentan, Perempuan dan anak pada Komunitas Desa-Kelurahan dan Pengembangan TKLD di Berbagai Level, dengan dukungan sumber daya yang berasal dari Iuran Anggota, Dana Hibah dari Berbagai Sumber Baik Lokal, Nasional dan Internasional (Kecuali Dana Hutang Luar Negeri) serta memiliki Wilayah Kerja di Regional Nusa Tenggara.

Bengkel APPeK Social Media