Berita

Melepas Sepatu; Ritual Merayakan Hadiah Peradaban
(Cerita Dari Bileu, Kado HUT Bengkel APPeK NTT Ke 15 )

Oleh: Gottfried Yan Usfomeni

Staf Bengkel APPeK NTT
Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Pagi itu Senin 23 April 2018 aktivitas belajar di dua kelas SD Negeri Bileu Fatuleu Tengah Kabupaten Kupang ditiadakan. Puncak gunung Fatuleu yang berdiri kokoh tepat di belakang bangunan sekolah seakan menaungi wilayah kecil itu dari sengatan panas matahari. Anak-anak sekolah terlihat sibuk memindahkan perlengkapan kelasnya. Sesekali beberapa siswa melepas poster huruf maupun angka yang biasa dipakai mengenal huruf juga angka oleh para gurunya. Siswa yang lain dengan penuh semangatnya memindahkan foto presiden dan wakil presiden ke kelas lain yang saling berhadapan. Gambar yang dilekatkan tepat didadanya seakan tak ingin genggamannya lepas.

Foto Yan : “Ritual melepas sepatu sebelum masuk kelas di SD Negeri Bileu adalah bentuk kesadaran tentang nilai yang berevolusi menjadi praktek”

Dari halaman sekolah, para orang tua siswa mulai berdatangan. Barisan panjang serupa arak-arakan saat perayaan di kampung. Diatas bahu para ayah beberapa batang kayu dipikulnya sedangkan junjungan diatas kepala para ibu jadi mahkota dikepala mereka. Disebuah ruang kecil tepat disamping ruang guru beberapa Ibu Guru nampak sibuk. Aroma kopi dan pisang yang telah direbus tercium dari tempat kesibukan mereka. Beberapa guru perempuan lain sibuk menjalankan oko mama sebagaimana tradisi menyambut tamu yang telah diwariskan para leluhur mereka.

Hari ini situasi sekolah jauh berbeda dari sebelumnya. Hasil rembuk bersama setahun yang lalu pada tahun 2017 jadi kado bagi sekolah. Diskusi komunitas sekolah SD Negeri Bileu sebagai dampingan Program #SekolahAman membuahkan perbaikan rehab dua ruang kelas berkat kebaikan hati dari PT. Teletama Artha Mandiri melalui program CSRnya yang diserahkan secara resmi pada 19 April 2018. Tanpa menunggu lama, semua warga mulai membongkar lantai yang sudah berlubang. Setiap orang dengan alat kerja ditangan masing-masing mulai bekerja. Bapak Dusun, ketua RT, ketua RW serta ketua komite jadi orang terdepan untuk kerja hari ini. Para Ibu dan beberapa orang tua yang rambutnya sudah mulai memutih seakan tak ingin kalah dari kaum Bapak dan beberapa anak muda yang bekerja dengan semangat.  Sesekali obrolan ringan dibalas dengan tawa bersama menghilangkan peluh keringat mereka. Jika amal bisa mengubah takdir, peluh beberapa orang tua yang telah lanjut usia jadi dupa yang menghantar doa kepada Sang Khalik bagi masa depan anak-anak di kampungnya.

Tanpa menunggu terik matahari siang meninggi, beberapa laki-laki dengan sigapnya melepas bagian plafon yang sudah nyaris roboh. Suara saling mengingatkan untuk berhati-hati terdengar dari luar ruang kelas. Sementara itu sisa kayu plafon yang sudah tak bisa dipakai dikumpulkan di pojok ruang kelas. Semakin lama, pekerjaan pun semakin mendekati selesai. Seusai kerja, minuman disuguhkan menemani obrolan atas pekerjaan hari ini. “Pekerjaan kita hari ini selesai dan kami minta Bapak Mama, kita semua untuk tetap bisa hadir membantu di sekolah saat dibutuhkan untuk memperbaiki sekolah anak-anak kita di sini” jelas Bapak Aris Niuflapu ketua komite kepada warga yang hadir.

Pekerjaan rehab dua ruang kelas secara swakelola pun selesai dirampung beberapa bulan. Sejak November 2018 ruang kelas sudah kembali digunakan dengan kondisi yang jauh lebih baik. Dua ruang kelas tersebut merupakan ruang kelas terbaik di SD Negeri Bileu dengan infrastruktur, meubeler, dan sarana belajar lebih lengkap. Ini menjadikan aktivitas belajar lebih baik dan nyaman bagi siswa serta guru. Kerap kedua ruang kelas tersebut jadi tempat favorit pertemuan internal sekolah juga jadi pilihan kegiatan guru tingkat Kecamatan Fatuleu Tengah. Kecintaan para guru dan siswa pada ruang kelas mereka pun kian bertumbuh subur. “Kadang jam istirahat juga anak-anak tidak mau keluar dari kelas. “Dong lebih betah di dalam karena ruang lebih bagus” Ungkap Ibu Marce wali kelas 2.

Salah satu hal istimewa memanfaatkan kedua ruang kelas tersebut adalah “ritual” melepas sepatu sebelum masuk kelas. “Kami guru saja kalau mau masuk kelas harus lepas sepatu sehingga anak-anak juga ikut contoh dari kami. Karena ruang kelas ini dibangun dari kebaikan orang lain dan pengorbanan semua warga maka kami harus hargai” terang wali kelas 1. Mengunjungi sekolah ini pengunjung akan disajikan dengan suatu perilaku warga sekolah yang berbeda. Deretan sepatu para siswa dengan aneka merk berjejer rapi mengisi rak sepatu yang ada. Ini tak cuma dilakukan para siswa tetapi wali kelas mereka sendiri lebih dahulu memberi teladan. Tak ada yang lebih mencintai ruang kelas seperti para guru dan anak-anak disini. Perilaku ini bahkan dicontohi oleh kepala sekolah, wali kelas lain atau siapa pun yang ingin memasuki kedua kelas ini. Sebagai simbol kecintaian terhadap ruang kelas, ekspresi ini adalah cara sederhana para siswa merayakan pendidikan sebagai hadiah peradaban bagi mereka.

Secara simbolis tindakan ini sarat akan nilai filosofi. Budaya pada kebanyakan tempat mengajarkan tindakan melepas alas kaki sebelum memasuki suatu tempat pada umumnya terkait erat dengan kesadaran individu atau kolektif segabi kesakralan suatu tempat. Praktek ini pun sebagai bentuk penghormatan dan tanda kerendahan hati dari pengunjung kepada tuan rumah atau pemilik tempat yang didatangi. Ada makna transenden, kesadaran mendalam tentang nilai yang berevolusi menjadi praktek.

Pesan dari tindakan simbolis para siswa dan guru SD Negeri Bileu ini sekaligus meneguhkan optimisme bahwa generasi bangsa harus terus tumbuh menjadi lebih baik. Pendidikan sebagai tindakan memanusiakan manusia sudah sepatutnya juga dibalas setara dengan mencintai setiap fasilitas pendidikan yang telah diadakan. Pesan para bocah kelas 1 dan kelas 2 dari SD Negeri Bileu sekolah ini mestinya hidup dalam kesadaran para siswa di sekolah lain. Harapan masa depan bagi anak-anak di negeri ini harus tetap tumbuh. Alam semesta pun akan selalu meneguhkan siapa saja yang optimis tentang esok yang lebih baik.

Sebagai pendamping di SD Negeri Bileu, pengalaman ini menjadi pembelajaran penting. Perubahan perilaku sejatinya mesti tumbuh diatas fondasi kesadaran yang kuat. Contoh pengalaman keterlibatan semua pihak dalam pekerjaan yang terjadi di SD Negeri Bileu adalah salah satu praktek baik yang memungkinkan suburnya rasa memiliki atas hasil kerja sendiri. Bersama Bengkel APPeK NTT yang telah memasuki usia 15 tahun perjalanan pengabdian, memberikan kesempatan belajar bersama masyarakat luas. Terlibat dalam proses penemuan nilai bagi orang lain serentak juga memberi nilai bagi diri sendiri. Jaya selalu Bengkel APPeK dalam pelayanan kepada mereka yang sedang berjuang menjadi lebih baik. Sukacita bagi orang lain adalah doa yang meneguhkan perjalanan di tahun-tahun yang akan dilewati. ****

 

 Editor : Largus Ogot

Author: Bengkel AppekEmail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Tentang Kami

Bengkel APPeK (Bengkel Advokasi Pengembangan dan Pemberdayaan Kampung) adalah Sebuah Organisasi Berbadan Hukum Perkumpulan dan Bersifat Nirlaba yang Melakukan Fasilitasi dan Implementasi Langsung  dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat Rentan, Perempuan dan anak pada Komunitas Desa-Kelurahan dan Pengembangan TKLD di Berbagai Level, dengan dukungan sumber daya yang berasal dari Iuran Anggota, Dana Hibah dari Berbagai Sumber Baik Lokal, Nasional dan Internasional (Kecuali Dana Hutang Luar Negeri) serta memiliki Wilayah Kerja di Regional Nusa Tenggara.

Bengkel APPeK Social Media