Berita
Sembilan Tahun Bergumul Bersama Perempuan Desa
(Cerita Sebagai Kado HUT Bengkel APPeK NTT ke 15)

 Oleh : Dodyanto Kolo 
Staf Bengkel APPeK

Sejak tahun 2011 hingga tahun 2021, sebagian besar karya saya berhubungan dengan perempuan-perempuan desa. Ketika memulai pekerjaan ini, saya benar-benar berangkat dari nol. Maklum, dunia kerja LSM masih awam. Meski demikian, saya punya tekad yang tinggi, belajar tak berhenti, sebagai bentuk usaha untuk memahami bagaimana bekerja ala LSM, apalagi sistem kerja pemberdayaan Bengkel APPeK dengan segala nilai-nilai yang dianutinya.

Foto Dodi// Bersama Kelompok Perempuan Tani Serabutan Desa Nunuanah Amfoang Timur Melakukan Penanaman tanaman Holtikultura (Mediao 2013)

Saya mengawali karya di Bengkel APPeK NTT bertugas sebagai staf lapangan pada program pemeberdayaan ekonomi masyarakat pesisir, tepatnya di Desa Oeteta Kecamatan Sulamu Kabupaten Kupang. Sebagaimana biasa, sebelum melaksanakan tugas, tahapan penguatan kapasitas dan pengenalan program saya ikuti dengan sungguh-sungguh.

Kondisi lucu yang sulit saya lupakan kala itu adalah saya belajar menghafal kepanjangan dari APPeK serta arti dari kata bengkel.

Dua bulan lamanya saya beradaptasi dengan LSM Bengkel APPeK termasuk bagaimana cara kerja dilapangan bersama masyarakat. Keberuntungan bagi saya ketika itu adalah senior turun melakukan sosialisasi program, saya memperhatikan bagaimana senior memfasilitasi proses, bagaimana mengkomunikasikan program kepada masyarakat. Dari proses tersebut, saya belajar bagaimana teknik memfasilitasi kegiatan, bagaimana bergaul dan mendekatkan diri dengan masyarakat di wilayah kerja.  

Usai saya pelajari semua itu, saatnya saya melakukan sendiri. Saat-saat yang terbilang menegangkan bagi saya, yakni memfasilitasi rewiew RPJMDes desa Oeteta, review barang ini tentu tidak mudah bagi saya, sejumlah kesiapan saya harus lakukan, alhasil dengan percaya diri akhirnya saya bisa memfasilitasi proses tersebut, saya menyadari bahwa hal tersebut belum sempurna.

Selanjutnya adalah kegiatan diskusi Kampung, disini saya juga belajar bagaimana bersama dengan masyarakat pesisir mendiskusikan masalah dan kebutuhan. Berbagai hal kami temukan seperti kerusakan lingkungan pesisir yang nyaris tak terkendali, hingga akhirnya memang harus ada Peraturan Desa yang mendasari pengendalian skala lokal terhadap perilaku pengrusakan kawasan pesisir.

Perempuan Desa Sebagai Publik Figur

Tahun 2012, menjadi tahun awal saya mulai bergumul bersama perempuan di desa-desa. Ketika itu terbesik dalam benak saya bahwa, kok dari mendampingi masyarakat wilayah pesisir, sekarang mendampingi perempuan-perempuan desa di wilayah daratan yang berkecimpung pada bidang pertanian.  

Bagi saya, ini dua hal yang berbeda, baik pendekatan maupun karakteristik. Ketika itu saya ditugaskan di daerah perbatasan Negara Timur Leste tepatnya Desa Netemnanu Utara dan Desa Nunuanah Kecamatan Amfoang Timur Kabupaten Kupang. Tema program kala itu adalah “Replikasi Partisipasi Perempuan Tani Serabutan Desa Dalam Perumusan Kebijakan Dan Penganggaran Untuk Pemenuhan Hak-Hak Dasar Perempuan”.

Berbekal pengalaman tahun sebelumnya, koordinasi dengan para aktor lintas sektor di level desa dan kecamatan aktif saya lakukan. Situasi yang menantang saya ketika itu adalah perempuan-perempuan desa yang menjadi komunitas dampingan saya rata-rata masih awam untuk berhimpun dalam organisasi, tidak hanya itu, untuk berbicara didepan umum belum memiliki keberanian apalagi kalau terlibat dalam Musrenbang Desa. Ke 3 isu tersebut memang menjadi perhatian inti dari program bagaimana perempuan berani memperjuangkan hak-haknya melalui perencanaan partisipatif pemerintahan desa.

Berbagai upaya dan kegiatan program dijalani sepanjang periode program. Seiring berjalannya waktu, kemudian saya menjadi bangga perempuan-perempuan di 2 desa dampingan saya, mereka mulai terlibat dalam musrembang desa untuk menyuarakan kebutuhannya.

Tidak hanya itu, kesadaran perempuan-perempuan desa sudah makin terlihat dengan berinisiasi melakukan kegiatan kelompok berupa arisan dan gotong royong menanam tamanan holtikultura sebagai upaya mereka untuk meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga.  

Tanggung Jawab Sebagai Koordinator Program

Dari waktu ke waktu tanggungjawab saya semakin besar. Tahun 2016 saya ditunjuk sebagai Koordinator Program gender Juctice (Keadilan Gender) bekerjasama dengan Oxfam. Program ini diimplementasikan di 7 desa wilayah Kabupaten Kupang dan TTS. Tanggungjawab yang tidak mudah, saya dituntut agar mampu bekerja dalam tim yang solid dan produktif. Beruntung isu program ini sama dengan tahun sebelumnya bagaimana mendorong perempuan-perempuan desa agar berani berbicara didepan umum, terlibat dalam perencanaan dan penganggaran desa termasuk hak politik lokal desa.

Menariknya adalah adanya sikap penolakan pihak laki-laki, baik langsung maupun tidak langsung. Disinyalir penolakan tersebut karena merasa tersaingi dan merasa tugas perempuan hanya mengurus rumah tangga. Tidak hanya dari kelompok laki-laki, secara internal, dalam  diri perempuan juga masih merasa canggung dan belum berani karena mereka sendiri merasa bahwa ini merupakan sesuatu yang baru dari yang biasa mereka kerjakan seperti urusan dapur, mengurus anak dan suami.

Peperlahan-lahan tapi pasti, seiring berjalannya waktu, semakin banyak perempuan yang terlibat dan mampu menyampaikan aspirasinya dalam pengambilan keputusan dilevel desa (Musrenbang Desa). Hal ini terlihat mereka mendapat akses Dana Desa untuk mendukung kegiatan ekonomi perempuan dan berani mencalonkan diri sebagai ketua RT/RW/Kepala Dusun hingga calon Kepala Desa.

Hingga tahun 2021 ini, saya masih ditugaskan sebagai Koordinator Program Penguatan Kapasitas Perempuan Indonesia Untuk Pemberdayaan Ekonomi, Kesetaraan dan Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak. Pada tataran ini manajemen pelaksanaan program sudah berbeda. Kali ini saya berada dalam lingkungan baru melalui kerjasama lintas NGO bernama Konsorsium Timor Adil Dan Setara NTT dimana anggotanya NGO ternama di NTT LBH APIK NTT, Perkumpulan CIS TIMOR, Lopo Belajar Gender, SSP – SOE, KPI Cabang TTS dan Yabiku – TTU.

Kelihatannya memang mentereng, tapi lagi-lagi tidak mudah, meski tanggugjawab masih pada lembaga masing-masing anggota, namun suasana manajemen ikut berdampak, setidaknya adaptasi untuk menjaga keselarasan peran antar lembaga.

Beragam pergumulan yang saya lalui bersama perempuan-perempuan desa, tidak sedikit diantara mereka yang sukses dibidangnya masing-masing. Ibu Hendra Mooymbatu selaku Community Organisation (CO) Forum Perempuan Desa Oebelo misalnya kini dipercayakan oleh Pemerintah Desa sebagai Pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa).

Korban Pemukulan

Setiap perjuangan pasti ada tantangan, baik internal maupun eksternal. Sembilan tahun saya bergumul dalam menjalankan tugas kemanusiaan ini, beranekaragam tantangan saya jumpai. Sebut saja jarak desa yang jauh, kondisi infratruktur jalan yang kurang memadai, masih minimnya dukungan kebijakan pemerintah lokal, dan lain-lain.

Yang menyedihkan ketika musim penghujan tiba, banjir dan lumpur kerap menjadi “sahabat” hingga nyaris tenggelam terbawa banjir di kali Taen Manubelon Amfoang. Tidak hanya itu bahkan menjadi korban pemukulan masa di saat melaksanakan tugas. Bagi saya pengalaman ini dipetik secara positif sebagai pengalaman yang berarti. Karena prinsip saya kalau tidak ada tantangan tentu tidak ada cerita. Setiap tantangan tersebut saya maknai sebagai pembelajaran, karena itulah hikmahnya.

Bengkel APPeK Rumah Kedua

Saya belajar memfasilitasi kegiatan, belajar bagaimana membangun kesadaran masyarakat khususnya perempuan-perempuan desa (advokasi). Yaaa… Bengkel APPeK, Rumahku yang ke 2. Bengkel APPeK memberikan terang dan warna yang berbeda dalam kehidupan saya, sebagai tempat belajar dan berkumpul untuk saling berbagi satu sama lain. Kurang lebih 9 tahun bersama Bengkel APPeK NTT,  saya mendapatkan banyak hal.

Tulisan ini setidaknya ada sesuatu yang berubah di wilayah kerja, dan perubahan itu adalah kado dari saya untukmu “Bengkel” Advokasi Pemberdayaan dan Pengembangan Kampung (APPeK) NTT Ke 15 tahun.

Bukan sesuatu yang mudah dipelihara ibarat hidup manusia mulai dari bayi/balita, anak hingga tumbuh menjadi remaja. Kiranya Bengkel APPeK selalu jaya kedepannya dengan terus berkarya bagi sesama, baik yang berada di Kota maupun di desa-desa. Dirgahayu Bengkel APPeK, Salam Sejahtera, Salve buat semua rekan-rekan Bengkel APPeK dan juga bagi Basudara Semua. Tuhan Memberkati. ****

 

 Editor : Largus Ogot

 

 

 

Author: Bengkel AppekEmail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Tentang Kami

Bengkel APPeK (Bengkel Advokasi Pengembangan dan Pemberdayaan Kampung) adalah Sebuah Organisasi Berbadan Hukum Perkumpulan dan Bersifat Nirlaba yang Melakukan Fasilitasi dan Implementasi Langsung  dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat Rentan, Perempuan dan anak pada Komunitas Desa-Kelurahan dan Pengembangan TKLD di Berbagai Level, dengan dukungan sumber daya yang berasal dari Iuran Anggota, Dana Hibah dari Berbagai Sumber Baik Lokal, Nasional dan Internasional (Kecuali Dana Hutang Luar Negeri) serta memiliki Wilayah Kerja di Regional Nusa Tenggara.

Bengkel APPeK Social Media