Berita

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI MAGANG DI ‘BENGKEL’?

 Oleh : Nia Tani
Volunteer 

Penghujung Oktober tahun 2018 tepatnya pada tanggal 31 saya bersama dua orang teman; Relly dan David ditentukan oleh Dosen Pendamping Lapangan (DPL) untuk bergabung dalam satu kelompok Magang, “coba kamu kasih masuk surat ijin magang di Bengkel APPeK” ujar Dosen. Mendengar kata bengkel sontak kami bertiga langsung kaget, “Ibu, masa jurusan Ilmu Komunikasi magang di bengkel?” ucap kami kepada dosen dengan penuh tanda tanya.

 “Bengkel APPeK itu salah satu LSM.” Tegas Ibu dosen kepada kami bertiga.

Perasaan lega menyelimuti kami setelah mendengar jawaban dari Ibu dosen. Bagaimana tidak, kalau saja kami benar magang di bengkel service, kendaraan apa yang harus kami buat, secara disiplin ilmu kami tidak ahli dalam hal permesinan, hehe.

Setelah mendapatkan secarik kertas yang berisikan surat ijin magang dari dosen, kami lalu berangkat ke kantor Bengkel APPeK NTT dengan bantuan google maps. Kurang lebih 20 menit akhirnya kami tiba di depan kantor Bengkel APPeK. Dengan berani kami melangkahkan kaki memasuki pagar dan memberi salam kepada beberapa staf yang waktu itu sedang berada digarasi. Mendengar suara kami, mereka mendongakkan kepala membalas salam sembari memberi senyum manis lalu kembali tertunduk dan berkutat dengan laptop dihadapan mereka, sepertinya sedang sibuk membuat laporan kegiatan. Hari itu kami mendapat ijin untuk magang selama 2 bulan di Bengkel APPeK, dan kami diperbolehkan untuk mulai magang pada keesokan harinya.

Tanggal 01 Nopember 2018 merupakan kisah awal saya mengenal Perkumpulan ‘Bengkel’ Advokasi Pemberdayaan dan Pengembangan Kampung (APPeK). Dari situ saya tahu bahwa kata ‘Bengkel’ diartikan sebagai rumah dimana para aktivis berkumpul, bekerja, dan mendiskusikan tentang masyarakat rentan (Perempuan, Anak, Lansia, Disabilitas, dll) dengan melalui kerja-kerja advokasi untuk menjadikan warga berdaya.

Selama 2 bulan magang di Bengkel APPeK saya ditempatkan dalam program Voice for Changes partnership kerjasama Bengkel APPeK dan SNV ( Stichting Nederlandse Vrijwiligers ). Saat itu program Voice for Changes partnership (V4CP) sedang gencar melakukan advokasi terkait penurunan stunting di Kabupaten Kupang. Kami (mahasiswa magang) selalu dilibatkan dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh Bengkel APPeK, seperti menjadi panitia dalam kegiatan “Pencegahan dan Penanganan Stunting melalui Penanaman 1.000 Anakan Kelor di Desa Oelnasi, Kecamatan Kupang Tengah, Kab. Kupang”, kegiatan “Penandatangan Komitmen Percepatan Penanganan Stunting”, kegiatan “Konferensi Forum Perempuan dengan tema ‘Peran Perempuan dalam upaya Penanganan Pangan dan Gizi untuk Cegah Stunting di Kota-Kab. Kupang”, dan masih banyak kegiatan lainnya.

Foto Nia: Foto bersama dengan Kordinator Umum Bengkel APPeK dan beberapa staf saat hari terakhir magang sekaligus perpisahan (11/01/19)

Saya merasa beruntung karena ditempatkan magang di Bengkel APPeK. Sebab, selama 2 bulan saya mendapatkan begitu banyak pengalaman dan pengetahuan yang tidak saya dapatkan di kampus. Baik itu proses pendewasaan, pembelajaran didunia kerja; bagaimana melakukan advokasi secara langsung dengan masyarakat maupun pejabat desa ketika turun lapangan, bagaimana membuat rekaman proses, notulensi, dan tidak hanya itu, kekeluargaan dalam lembaga juga saya dapatkan dalam Bengkel APPeK, serta kerjasama tim, saling suport satu sama lain, dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh Bengkel APPeK, yakni nilai transparansi, akuntabel, keadilan & kesetaraan, independen, keberpihakan pada kelompok rentan, demokratis, menghargai keberagaman, solidaritas, dan keberlanjutan.

Jumat, 11 Januari 2019 masa magang kami telah selesai, rasanya berat sekali untuk pamit dan berpisah dengan semua yang ada di Bengkel APPeK. Namun, apa boleh buat ini sudah menjadi keharusan kami sebagai mahasiswa semester VII (tujuh) harus kembali ke kampus.

Setahun berlalu, dan tepat pada tanggal 10 Februari 2020 saya kembali ke Bengkel APPeK. Kali ini berbeda, saya datang sendiri tidak dengan dua orang teman dan bukan sebagai mahasiswa magang melainkan sebagai volunteer. Mungkin ini jawaban dari rasa yang berat ketika setahun yang lalu kami hendak pamit dan berpisah dengan semua yang ada di Bengkel APPeK saat selesai magang waktu itu.

Sebagai volunteer tentu banyak tantangan yang harus saya hadapi, namun itu tidak  membuat saya patah semangat, saya justru jadi bisa lebih banyak belajar, mulai dari belajar caranya bersyukur sampai belajar memanusiakan manusia. Bagi saya menjadi volunteer itu panggilan hati, tanpa terpaksa, tanpa rekayasa.

Selasa, 26 Januari 2021, belum setahun saya bergabung di Bengkel APPeK, namun pada hari itu Bengkel APPeK telah genap berusia 15 tahun. Jika diibaratkan dengan manusia, maka Bengkel APPeK telah tumbuh menjadi remaja yang telah melewati pahit manis kehidupan dengan selalu memberdayakan masyarakat melalui pengabdian dan pelayanan dari Kampung ke Kampung menjadikan NTT jaya melalui beberapa program pemberdayaan yakni, Sekolah Aman kerjasama Bengkel APPeK dengan Yappika Action-Aid; program yang banyak membuahkan hasil nyata seperti perbaikan ruang belajar darurat menjadi ruang belajar yang aman dan nyaman, serta sarana belajar lebih lengkap yang kini telah dinikmati oleh para Murid dan Guru di 20 sekolah dampingan Bengkel APPeK, adapun Program School For Changes kerjasama dengan  Save the Children merupakan program Advokasi Perlindungan Anak dan Literasi juga telah banyak bekerja dari kampung ke kampung untuk memberdayakan 28 sekolah dampingan, membentuk kelompok PATBM (Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat) di Desa, membentuk Pos Baca guna meningkatkan literasi anak, serta memberikan pengetahuan kepada Orangtua terkait Parenting (Pengasuhan Anak secara Positif), yang berikut Program Voice for Change Partnership (V4CP) kerjasama Bengkel APPeK dan SNV (Stichting Nederlandse Vrijwiligers) yang fokus menyampaikan hasil temuan kondisi pangan dan gizi di NTT terkait kebijakan dan anggaran, penanganan isu pangan dan gizi serta membangun sinergitas mengatasi persoalan pangan dan gizi yang berkontribusi pada penurunan stunting di NTT, adapun Program MATAKAIL (Mari Kita Kreatif Agar Ikan Lestari) kerjasama Bengkel APPeK dengan PLAN dan Kopernik yang berada di Flores (Sikka, Nagekeo, dan Lembata) telah melahirkan sejumlah anak muda yang memiliki potensi dibidang Kelautan dan Perikanan menjadi pengusaha muda yang mandiri dan sukses. Serta, Program INGA Wisata (Inisiatif Pengembangan Wisata Berbasis  Masyarakat) kerjasama Bengkel APPeK dengan TNC (The Nature Conservancy), program ini telah menciptakan Wisata Pantai Oesina Kupang Barat Kabupaten Kupang sebagai hasil kerja nyata yang kini telah menjadi  kekuatan ekonomi desa, dan masih banyak program-program pemberdayaan dan pengembangan kampung yang telah dilakukan oleh Bengkel APPeK.

Singkat kata, dirgahayu Bengkel APPeK NTT semoga diusia yang ke 15 tahun ini, Bengkel APPeK terus bertumbuh, berkembang, dan terus bergerak maju melalui advokasi demi masa depan NTT yang lebih baik.

Tuhan senantiasa Memberkati dan Menyertai segala karya dan pelayanan Bengkel APPeK. Salam Sehat dan sukses selalu.****

 

Editor : Largus Ogot

Author: Bengkel AppekEmail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Tentang Kami

Bengkel APPeK (Bengkel Advokasi Pengembangan dan Pemberdayaan Kampung) adalah Sebuah Organisasi Berbadan Hukum Perkumpulan dan Bersifat Nirlaba yang Melakukan Fasilitasi dan Implementasi Langsung  dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat Rentan, Perempuan dan anak pada Komunitas Desa-Kelurahan dan Pengembangan TKLD di Berbagai Level, dengan dukungan sumber daya yang berasal dari Iuran Anggota, Dana Hibah dari Berbagai Sumber Baik Lokal, Nasional dan Internasional (Kecuali Dana Hutang Luar Negeri) serta memiliki Wilayah Kerja di Regional Nusa Tenggara.

Bengkel APPeK Social Media