bengkelappek.org, Tiga desa di kecamatan Takari menghadiri diskusi pemetaan kebutuhan pelatihan CSO/pelaku usaha/BUMDes yang difasilitasi oleh Bengkel APPeK NTT, Selasa,14 September 2021.

Kegiatan diskusi ini lanjutan dari program ENVISION yang merupakan salah satu program dari Bengkel APPeK NTT dengan dukungan Yayasan Alfa Omega (YAO), Wahana Visi Indonesia (WVI) dan Uni Eropa. pelaksanaanya di kantor desa Hueknutu dengan melibatkan 10 orang sesuai undangan yang telah diberikan kepada ketiga desa. sedangkan yang terlibat dalam kegiatan diskusi ini hanya  8 orang yaitu desa Hueknutu 4 orang, desa Kauniki 3 orang dan desa Tuapanaf 1 orang.

Salah satu tujuan dari kegiatan ini adalah mengetahui jumlah dan jenis kebutuhan untuk penguatan kapasitas CSO/Pelaku Usaha/BUMDes. Sehingga peserta yang hadir akan memberikan informasi yang akurat terkait kebutuhanya dalam mengembangkan BUMDes dan menggerakan ekonomi desa.

Pada pelaksanaanya hal yang paling mendasar untuk gali dari setiap desa yaitu menceritakan/ gambarkan proses  terbentuknya BUMDes dan perjalanannya sampai saat ini?

Menurut kepala desa Kauniki bahwa “Pada tahun 2016 merupakan Proses awal terbentuknya BUMDes di desa Kauniki sehingga pada tahun itu pula  terbentulah badan pengurus,kemudian berkaitan dengan modal awal BUMDes yang dibuat dalam APBDes berjumlah Rp.75.000.000. akan tetapi dalam perjalananya badan pengurus BUMDes yang dilantik tidak aktif sehingga anggaran itu dibelanjakan langsung oleh pemerintah desa berupa tenda 10 unit, kursi 50 buah. BUMDes tidak aktif dan  berjalan dengan baik karena SDM yang lemah, juga tidak ada motor penggerak sehingga badan pengurus tidak menjalankan tugas dant anggung jawab mereka” ujarnya.

Dengan situasi dan kondisi seperti itu pemerintah desa melakukan pergantian  badan pengurus selama dua kali, akan tetapi pengukuhan badan pengurus yang baru justru tidak melakukan apapun dalam mengelola BUMDes “badan pengurus yang baru ini dikukuhkan oleh camat Takari bulan Maret tahun 2021, setelah pengukuhan badan pengurus yang baru ini, belum melakukan apa pun karena Bumdes maupun pemerintah desa masih sibuk dengan banyak urusan dan adanya halangan sehingga belum ada waktu untuk duduk bersama membicarakan hal teknis untuk keperluan kerjaBUMDes”ungkapnya.

Hal yang sama juga dialami oleh desa Tuapanaf karena BUMDes juga diterbentuk pada tahun 2016. Sedangkan berkaitan dengan penyertaan modal untuk BUMDes sebesar Rp.100.000.000 tetapi yang diserahkan ke BUMDes hanya Rp.50.000.000. Pada kondisi seperti ini  badan pengurus BUMDes merasa takut untuk mengelola dana tersebut.

Selain itu ada alasan lain sehingga BUMDes Tuapanaf  belum membuat kegiatan diakibatkan Sumber Daya Manusia (SDM) badan pengurus masih lemah, hal ini disampaikan oleh ketua BUMDes Tuapanaf “Sampai saat ini BUMDes Tuapanaf  belum membuat kegiatan apa pun karena SDM dari badan pengurus yang lemah, dan tidak tahu mau bergerak seperti apa, sehingga setelah pelantikan waktu itu katanya akan ada pelatihan untuk badan pengurus namun sampai saat ini belum ada jadwal untuk pelatihan apa pun, jadi badan pengurus BUMDes Tuapanaf masih terus menunggu dan belum berjalan sama sekali” tegasnya.

Ketua BUMDes  Hueknutu  menyampaikan bahwa BUMDes dibentuk sama seperti desa yang lain yaitu pada tahun 2016, dan penyertaan modal awal sebesar Rp.50.000.000. dengan  dana tersebut badan pengurus menyepakati untuk mengelolanya dengan pengadaan tenda 6 unit dan kursi 100 buah yang di beli pada tahun 2017. Menurutnya  “Usaha sewa tenda kursi dari BUMDes berjalan lancar dari tahun 2017 sampai awal 2019 dan pada akhir 2019 sampai sekarang sudah tidak berjalan dengan baik. Dalam perjalanan BUMDes meminta untuk melakukan rapat bersama dengan pemerintah desa juga BPD untuk mencari solusi bersama menyangkut vakumnya BUMDes. Namun sampai saat ini pemerintah desa tidak memberi respon dan menindaklanjuti permohonan dari BUMDes” ungkapnya.

Dengan situasi terbengkelainya pengelolaan BUMDes di ketiga desa tersebut, fasilitator Bengkel APPeK  menanyakan berkaitan harapan dari pemerintah desa maupun pengurus BUMDes kepada Yayasan Alfa Omega (YAO), Wahana Visi Indonesia (WVI) dan Bengkel APPeK NTT: Sesuai situasi yang terjadi, apa harapan dari pengurus BUMDes untuk WVI, YAO dan Bengkel Appek?

Harapannya agar ke depan BUMDes mendapat bimbingan dan dukungan untuk aktif lagi dan dapat menjalankan usaha sesuai potensi yang ada didesa, dan permasalahan menyangkut dana 50 juta yang masih menjadi misteri ini mendapat jawaban yang tepat, agar BUMDes bisa bergerak tanpa ada rasa takut. BUMDes juga membutuhkan bimbingan bagaimana cara pengelolaan, dan cara mengatasi kendala yang terjadi, selanjutnya BUMDes mengharapkan sekali pelatihan untuk masing-masing badan pengurus agar dapat menjalankan tugas dan perannya dengan baik dan benar.

Harapan dari pemerintah desa yaitu adanya bimbingan teknis serta pelatihan untuk BUMDes yang masih baru ini agar dapat menjalankan tugas dengan baik sehingga tidak ada lagi revisi badan pengurus, selain itu pemerintah desa juga berharap BUMDes mendapat bimbingan bagaimana berhadapandenganmasyarakat yang tidakmau bayar sewa, pendekatan atau teknik seperti apa yang harus BUMDes lakukan agar bisa membuat masyarakat yang SDM nya masih minim ini mau mengerti dan merubah cara berpikir mereka agar tidak lagi menganggap aset desa itu hibah atau gratis.

Melihat potensi yang ada didesa Kauniki, maka badan pengurus BUMDes yang baru ini walaupun belum ada SK tapi siap untuk memajukan desa Kauniki, sehingga badan pengurus BUMDes sangat membutuhkan bimbingan teknis, pelatihan untuk cara kerja BUMDes dari proses perencanaan, mengelola usaha juga dana yang nanti di terima, pembuatan laporan, agar semua kerja BUMDes dapat terarah dengan baik, desa Kauniki juga bisa maju.

Sebagai pengurus BUMDes yang baru, harapannya agar desa ini dapat maju kedepannya, harapan itu bisa terwujud jika BUMDes tidak berjalan sendiri tapi adanya dukungan dari semua pihak. Untuk itu semoga WVI, YAO dan Bengkel Appek dapat membantu BUMDes Kauniki dengan bimbingan melalui pelatihan dan penguatan kapasitas untuk badan pengurus yang baru yang SDMnya masih lemah, agar badan pengurus mampu menjalankan perannya masing-masing dengan benar. Selain ituharapannya juga terus mengkawal BUMDes agar tidak hanya sebatas perencanaan tapi BUMDes dapat merealisasi semua perencanaan dengan tindakan nyata.

Harapannya agar BUMDes Hueknutu mendapat bimbingan teknis seperti pelatihan -pelatihan bagi badan pengurus,termasuk pelatihan pembukuan dan pelaporan keuangan, serta adanya pendampingan dari WVI, YAO dan Bengkel Appek agar BUMDes berjalan dengan baik, transparan dengan tujuan memajukan desa dan mensejahterakan masyarakat.

Sama seperti yang lain, BUMDes, Fasdes maupun pemerintah desa Hueknutu sangat membutuhkan pelatihan -pelatihan untuk penguatan kapasitas, yang diharapkan bisa didapat dapat dari WVI, YAO dan Bengkel Appek, agar setelah dua tahun pendampingan nanti, BUMDes Hueknutu bisa mandiri dan maju sehingga dapat menjadi contoh untuk desa lain maupun kecamatan lain yang tidak mendapat sentuhan seperti ini dari ketiga lembaga yang ada.

Harapannya yaitu pemerintah desa dan BUMDes dapat bekerja sama untuk memajukan desa Hueknutu. Selain itu harapannya agar dari WVI, YAO dan  bengkel Appek bukan hanya membekali BUMDes tapi juga untuk pemerintah desa, agarawalnya pemahaman dan cara kerja yang kurang sesuai dapat diperbaiki, sehinggapemerintah desa dan BUMDes dapat berjalan selaras dan tidak saling mempersalahkan.

Harapannya yaitu, ketiga lembaga yaitu WVI, YAO dan Bengkel Appek dapat membantu BUMDes Hueknutu dengan pendampingan dan bimbingan, agar harapan terbesar badan pengurus BUMDes untuk mensejahterakan masyarakat dapat tercapai. Harapan untuk pemerintah desa agar bekerja sama dengan BUMDes ketika masyarakat atau pemerintah desa sendiri yang memakai aset tenda kursi agar disampaikan kepada BUMDes sehingga tidak ada kesalahpahaman lagi. Selain itu harapan untuk pemerintah desa juga kalau bisa BUMDes di siapkan gudang atau sekretariat untuk menyimpan aset yang ada, agar benar-benar pengelolaan itu dilakukan oleh BUMDes.

 Kontributor : Emy & Dakus

 Editor          : Naldo J

Author: Bengkel AppekEmail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.