Berita

bengkelappek.org, Program Envision kerjasama Bengkel APPeK NTT dengan Yayasan Alfa Omega (YAO), Wahana Visi Indonesia (WVI) dan Uni Eropa  bertekad untuk  memampukan organisasi masyarakat sipil dalam pembangunan ekonomi desa yang inklusif melalui pendampingan bagi CSO, fasilitator desa dan BUMDes di kabupaten Kupang.

Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Bengkel APPeK adalah assement kebutuhan BUMDes, usaha perorangan dan kelompok di 3 (tiga) desa yang tersebar di Kecamatan Kupang Barat yaitu desa Lifuleo, Bolok dan Manulai 1. Informan dari assessment ini berjumlah 30 orang (10 orang per desa) dan kemudian melakukan workshop hasil assesment kapasitas usaha BUMDes dan pembentukan jaringan penggerak BUMDes tingkat kecamatan pada hari jumad (19/11/2021) di Aula Kantor Kecamatan Kupang Barat .

Berdasarkan temuan Bengkel APPeK NTT yang disampaikan oleh Alfred Enamau “Dari 30 informan ternyata ada banyak usaha yang dijalankan yang terbagi menjadi 4 kelompok usaha yaitu pertama, Usaha dagang (kios, warung, jual bensin, pedangan sayur, PKL/asongan, jual kue, online shop, ikan panggang dan minyak tanah). Kedua, Pelayanan jasa (ada pangkas rambut, penyewaan, tukang jahit dan pariwisata). Ketiga, Pertanian, peternakan (tanaman sayur mayur, beberapa tanaman holtkultural). Keempat, Perikanan dan kelautan (Aktivitas yang berhubungan dengan budidaya rumput laut)” paparnya.

Sebagian besar usaha yang dijalankan oleh masyarakat adalah usaha perorangan dengan menggunakan modal sendiri, pinjaman ke bank dan koperasi kemudian memanfaatkan potensi yang ada.

“Banyak masyarakat yang mempunyai keinginan untuk jalankan usaha tapi ternyata masih lebih fokus pada modal sendiri, belum tampak dukungan terhadap usaha kecil menengah, khususnya dari program pemberdayaan ekonomi masyarakat pada tingkat desa maupun di tingkat kabupaten”  lanjutnya.

Selain itu masyarakat juga masih mengalami tantangan dalam menjalankan usaha terutama terkait dengan modal, persaingan, kesediaan barang dan manajemen usaha.

“Ada beberapa hambatan yang dialami, keterbatasan modal, soal persaingan yang cukup tinggi, kondisi alam, manajemen waktu, lokasi, penentuan harga dan pencatatan, dan logistik kesediaan barang dan utang piutang, hama penyakit, distrbusi hasil dan pemasaran” jelasnya.

Lebih lanjut tim riset Bengkel APPeK itu menyampaikan hampir sebagian besar desa yang ada di kabupaten Kupang BUMDesnya menjalankan usaha tenda “Memang baik, namun paling tidak ada usaha lain yang mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi di tingkat desa, dasarnya pada potensi yang dimiliki” lanjut dosen fisip Undana tersebut.

Peserta Sedang Mengikuti workshop hasil assessment kapasitas usaha BUMDes Di Kantor Kecamatan Kupang Barat Pada Hari Jumad, 19 November 2021 (Sumber: Dokumentasi Naldo)

Didalam pernyataan hasil analisis itu ada potensi yang bisa jadi fokus aktivitas BUMDes baik sebagai pengelola langsung, bentuk unit usaha dan mendukung proses produksi untuk pemasaran. Maksudnya dengan pemetaan ini paling tidak ada peran BUMDes untuk mendorong perekonomian desa.

Hal tersebut juga disampaikan oleh Vinsensius Bureni selaku direktur Bengkel APPeK NTT, ia menyampaikan bagaimana BUMDes hadir di tengah desa untuk potensi yang ada sehingga bermanfaat bagi masyarakat desa.

“Setidaknya menjadi bagian untuk mendukung dan terlihat mensejahterakan masyarakat desa. Kalau pengurusnya tidak ada target kerja, sudah tau tidak ada peningkatan untuk apa bertahan” tegasnya.

Kepala desa sebagai komisaris berkewajiban memanggil BUMDes untuk mendiskusikan berkaitan dengan usaha BUMDes dan sebagai komisaris pemilik uang yang dikeluarkan dari uang rakyat tapi tidak pernah untung.

“Jadi kalau target tidak ada yang diberhentikan saja. Banyak uang yang dihamburkan itu karena BUMDes yang tidak berhasil, penyertaan modal tiap tahun tapi ekonomi yang diambil alih di desa tidak berjalan semestinya”lanjutnya.

Strategi yang dipakai belum sesuai untuk membangun ekonomi desa, bisa coba dengan sertakan modal atau investasikan untuk masyarakat yang punya usaha dengan perjanjian atau kontrak serta manajemen pendampingan yang jelas dan baik.

“sudah tau warga buka kios di desa itu, BUMDes hadir juga membuka kios dan bersaing dengan warga desa itu. Jadi, Selain menghamburkan uang dan mengambil alih serta mematikan ekonomi warga” tegasnya.

Adanya BUMDes yang merugi, mangkrak atau secara terus menerus mendapatkan penyertaan modal dari desa menunjukan ada hal yang keliru dalam pembentukan dan pengelolaanya.

Penulis : Naldo J

 

Author: Bengkel AppekEmail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Tentang Kami

Bengkel APPeK (Bengkel Advokasi Pengembangan dan Pemberdayaan Kampung) adalah Sebuah Organisasi Berbadan Hukum Perkumpulan dan Bersifat Nirlaba yang Melakukan Fasilitasi dan Implementasi Langsung  dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat Rentan, Perempuan dan anak pada Komunitas Desa-Kelurahan dan Pengembangan TKLD di Berbagai Level, dengan dukungan sumber daya yang berasal dari Iuran Anggota, Dana Hibah dari Berbagai Sumber Baik Lokal, Nasional dan Internasional (Kecuali Dana Hutang Luar Negeri) serta memiliki Wilayah Kerja di Regional Nusa Tenggara.

Bengkel APPeK Social Media