Berita

bengkelappek.org, Dalam rangka memperingati hari Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia, Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Polda NTT) Menyelenggarakan Lomba Orasi Unjuk Rasa Piala Kapolri tahun 2021.

Kegiatan yang memperebutkan piala kapolri ini dilaksanakan tepat depan Marga PMKRI Cabang Kupang pada hari, Jumad (3/12/2021). Polda NTT menghadirkan tuju tim orasi yang merupakan mayoritas mahasiswa dari berbagai  perguruan tinggi di kota Kupang dan sekitarnya. Perlombaan ini juga dinilai oleh dua orang juri yaitu direktur Bengkel APPeK NTT Vinsensius Bureni dan dosen FKIP Undana  Marsel Robot.

Divisi Humas Polda NTT Kombes Pol. Rishian Krisna Diaswanto menyampaikan tujuan dari perlombaan ini adalah untuk memberikan ruang bagi generasi muda dalam mengekspresikan pendapat melalui orasi.

“Lomba ini bertujuan untuk memberikan ruang bagi generasi  muda dalam mengekspresikan pendapat melalui orasi. Karena pada dasarnya ini juga bentuk demokrasi  melalui lomba orasi ini dapat berkontribusi bagi Polri dan masyarakat umum” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan peserta lomba menampilkan yang terbaik. Kemampuan berorasi perlu dikembangkan dengan positif sehingga apa yang disuarakan menjadi fondasi dalam mendukung pembangunan nasional.  

“Hampir seluruh peserta yang ada menampilkan yang terbaik. Kita melihat bahwa potensi generasi muda yang memilki kemampuan orasi. Ini tentunya perlu untuk salurkan dan terus dikembangkan dengan positif sehingga apa yang mereka suarakan  sebagai bentuk eksepresi mereka dan menjadi fondasi dalam mendukung pembangunan nasioanal” lanjutnya.

Peserta yang mengikuti lomba tersebut dinilai oleh para juri dan peserta yang juara ditingkat Polda NTT akan dikirim ke Mabes Polri untuk mewakili NTT di ajang nasional.

Foto Penyerahan Dokumen Penilaian Dari Kedua Juri Kepada Divisi Humas Polda NTT Pada Hari Jumad, 3/12/2021 (Sumber : Dokumentasi Kristin)

Hal ini kemudian disampaikan oleh Vinsensius Bureni sebagai salah satu juri dalam perlombaan tersebut. Ia menyampaikan “menurut saya yang terbaik itulah yang akan mewakili NTT untuk bersaing di tingkat nasional dan itulah yang kita putuskan. Kita tidak punya apa-apa selain mengola subtansi, kemudian kekompakan tim dan criteria penilaian lainya sebagai bentuk dari menghasilkan kelompok yang betul-betul, sekalipun dengan angka, tetapi kita juga punya argumentasi untuk memastikan angka itu punya arti terhadap sebuah criteria penilaian” ujarnya.

Direktur Bengkel APPeK NTT tersebut juga mengucapkan terimakasih kepada Polda NTT yang telah memintanya menjadi tim juri dalam perlombaan orasi untuk memperingati  hari HAM sedunia.

“jadi bagi kita ini bagian dari sosialisasi Polri secara real kepada masyarakat bahwa Polri bagian dari pejuang terhadap HAM. Dan itu yang perlu diapresiasi dan kegiatan ini memberikan ruang sebenarnya. Tidak semudah yang kita bayangkan selama ini publikdisatu pihak, sementara polisi dipihak yang lain untuk mengamankan proses orasi atau unjuk rasa di public dengan berbagai macam itu. Tapi hari ini justru polri memberikan ruang dan bersama-sama dengan public untuk melakukan kampanye HAM dan menurut saya ini sangat luar biasa” pungkasnya.

Menurutnya, yang terpenting mengungkapkan fakta dan memberikan solusi  sebagai bagian dari proses belajar kedepanya.

“jadi tidak  sekedar abilitasi atau asumsi tetapi yang penting mengungkapkan fakta. Nah kita lihat dari proses hari ini memang ada bagian tertentu yang kurang elaborasi fakta tetapiada kelompok yang cukup kuat mengucap fakta baik nasional, internasional dan lokal. Dan kemudian dia tidak menyalahkan, tetapi memberikan solusi, inibagian dari proses belajar yang baik agar kedepanya public dapat mengungkapkan pendapat, mengungkapkan fakta, kejadian, kemudian diungkapkan solusi dan hari ini ada kelompok yang mengungkapkan itu” tegas direktur Bengkel APPeK tersebut.

Dioni Hilda selaku orator dari tim sembur paus membawakan orasi tentang perlindungan masyarakat adat. Menurutnya pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di akar rumput terus terjadi, terutama ia melihat kasus Besipae yang konon belum selesai.   

“Saya sudah pernah ke Besipae. Saya melihat sendiri bagaimana kekerasan di sana terjadi. Korban yang paling rentan itu ibu dan anak. Perlu adanya pengakuan dan pengesahan terhadap Hak Masyarakat Adat” ujar Hilda.

Ia kemudian menambahkan bahwa masyarakat adat hidup dan tumbuh sangat intim dengan alam. Ibaratnya, jika ada pohon yang hilang pasti akan menggangu keseimbangan kehidupan masyarakat adat.

Bagi Hilda dan teman-temannya, perlombaan orasi unjuk rasa  ini merupakan panggung perjuangan sekaligus memberikan edukasi kepada public dalam menumbuhkan rasa perlawanan bagi masyarakat yang tertindas.

“lomba ujuk rasa ini tidak sekedar lomba, melainkan panggung perjuangan. Besok dan hari-hari ke depannya, apa yang disampakan dalam lomba ini dapat disebarkan melalui media dan bisa memberikan edukasi ke publik dan menghadrikan rasa perlawanan bagi masyarakat yang selama ini tertindas atau hak-haknya tergadaikan”pungkasnya.

Hilda juga mengapresiasi kepada Polda NTT yang telah menyelenggarakan perlombaan ini. Bahkan ia menilai lomba orasi unjuk rasa tersebut sebagai ruang terbuka untuk terus turun ke jalan dalam menyuarakan ketidakadilan dan penindasan yang terjadi di mana-mana.

  Penulis  : Kristin

  Editor    : Naldo J

 

Author: Bengkel AppekEmail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Tentang Kami

Bengkel APPeK (Bengkel Advokasi Pengembangan dan Pemberdayaan Kampung) adalah Sebuah Organisasi Berbadan Hukum Perkumpulan dan Bersifat Nirlaba yang Melakukan Fasilitasi dan Implementasi Langsung  dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat Rentan, Perempuan dan anak pada Komunitas Desa-Kelurahan dan Pengembangan TKLD di Berbagai Level, dengan dukungan sumber daya yang berasal dari Iuran Anggota, Dana Hibah dari Berbagai Sumber Baik Lokal, Nasional dan Internasional (Kecuali Dana Hutang Luar Negeri) serta memiliki Wilayah Kerja di Regional Nusa Tenggara.

Bengkel APPeK Social Media