Berita

bengkelappek.org, Memperingati usia ke-16 tahun, Bengkel (Advokasi Pemberdayaan dan Pengembangan Kampung) APPeK NTT menggelar diskusi publik pra penyusunan rencana strategis pada hari/tanggal, Rabu, 26/01/2022 di Kantor Bengkel APPeK, Lasiana, Kota Kupang

Kegiatan ini bertujuan untuk merefleksikan perjalanan Bengkel APPeK sehingga dapat memperkuat kelembagaanya dan mendukung berbagai aktifitas kedepannya. Oleh karena itu, refleksi kali ini dibalut dalam acara HUT Bengkel APPeK yang ke-16 dengan mengusung tema “mandiri dan berdampak lebih luas”. Kegiatan ini menghadirkan  para pengurus, pengawas, mitra LSM, jaringan dan keluarga besar Bengkel APPeK NTT.

Direktur Bengkel APPek NTT, Vinsensius Bureni menyampaikan bahwa dalam lima tahun sebelumnya ada pasang surut terutama tantangan-tantangan kerja internal Bengkel APPeK berkaitan dengan tenaga kerja.

“Di awal tahun 2021, harus merumahkan sebelas orang, karena Bengkel APPek juga  mengalami dampak dari Covid-19. Tetapi pada bulan Mei 2021, kembali merekrut magang prakerja dengan lama magang satu tahun”,ungkapnya.

Sedangkan berkaitan dengan program selama tahun 2021, direktur Bengkel APPeK tersebut mengatakan ada empat program  yang dijalankan dan dua program internal lembaga.

“Program yang dijalankan selama tahun 2021 terdiri dari pemantuan barang dan jasa untuk anak muda dengan Transparancy Internasional Indonesia (TII), program sekolah Aman yang bekerja sama dengan Yappika ActionAid  untuk isu kesehatan, ekonomi dan pendidikan komunitas sekolah, program VICRA untuk anak muda dan petani milenial yang didukung oleh Kedutaan Belanda, program ENVISION yang bekerja sama dengan WVI dan YAO mengurus BUMDes di Kabupaten Kupang dan ada penambahan program internal lembaga yaitu PODCAST dan  pengembangan kebun di Raknamo”, lanjutnya.

Dalam HUT Bengkel APPeK ke 16 dilakukan panel materi dan diskusi oleh narasumber Dr, David Pandie, M.Si, Aktivis perempuan Ana Njukana, dan kepala BAPPEDA Provinsi NTT, Kosmas Lana.

David Pandie mengungkapkan kerisauan dalam konteks demokrasi sekarang adalah masyarakat sipil belum menjadi isu yang penting dan strategis, karena lebih banyak demokrasi top-down untuk merebut kekuasaan. Demokrasi di Indonesia kekuatannya ada pada partai yang berkuasa dari atas ke  bawah.  Perlu hadirnya demokrasi yang deliberatif. Demokrasi lokal juga membicarakan ruang bagi kaum marjinal untuk memperoleh hak yang setara.

“Saya suka demokrasi deliberatif, karena masyarkat bisa terlibat dalam diskusi-diskusi publik. Bagi saya inti dari demokrasi lokal ada di situ. Kalau masyarakat tidak mau membicarakan kepentingan dirinya, artinya demokrasi itu tidak bertumbuh. Demokrasi deliberatif ini menjadi kekuatan, karena demokrasi harus berakar dari rakyat. Bengkel APPeK mungkin menjadi bagian dan menggerakan demokrasi dilebaration untuk mendorong demokrasi akar rumput. Karena ada yang memanfaatkan demokrasi bukan untuk kepentingan rakyat tetapi untuk kepentingan pribadi beberapa pihak”,jelas David.

Sedangkan dalam konteks peluang dan tantangan gerakan masyarakat sipil, Ana Njukana menyampaikan sulitnya memperoleh sumber dana dari dalam negeri termasuk dari pemerintah karena prosesnya yang berbelit-belit.

“Masalah NGO dalam memperoleh sumber yang memadai dari dalam negeri termasuk pemerintah, sangat sulit dan harus melalui proses yang berbelit. Karena itu hadirnya konsorsium yang mengabungkan NGO-NGO lokal  untuk semakin kuat dan mampu bersaing dengan NGO luar”, ujarnya.

Kepala BAPPEDA Provinsi NTT, Kosmas Lanu, mengatakan bahwa pemerintah tidak bisa kerja sendiri untuk mensejahterakan masyarakat. Tentu pemerintah mempunyai mitra yaitu DPR yang dipilih oleh rakyat tetapi ada pula organisasi masyarakat sipil lainnya, salah satunya adalah Bengkel APPeK.

“Saya mengajak teman-teman di Bengkel APPek untuk bersama-sama pemerintah memikirkan satu hal penting dan melakukan kerja-kerja nyata. Jika sebelumnya Bengkel APPek fokus pada penanganan stunting, maka kali ini saya mengajak untuk fokus pada isu yang sangat strategis saat ini yaitu kemiskinan ekstrem”, jelas Kosmas.

Salah satu peserta dalam kegiatan ini, Yustin Sadjii perwakilan dari Jarpuk Ina Fo’a mengharapkan dalam perencanaan yang telah dibuat oleh Bengkel APPeK, Jarpuk siap mendukung secara mandiri untuk menciptakan dampak yang lebih luas.

“Kita terbiasa melakukan kerja mandiri, kami manawarkan diri untuk kerja mandiri. Kami juga mengharapkan kedepanya dilibatkan secara aktif dan mandiri. Jangan lupakan kami sebagai anak yang lupa rumah. Saya berharap Bengkel APPeK melihat kami sebagai anak untuk diberdayagunakan”, ungkapnya.

Penulis : Kristin

Author: Bengkel AppekEmail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Tentang Kami

Bengkel APPeK (Bengkel Advokasi Pengembangan dan Pemberdayaan Kampung) adalah Sebuah Organisasi Berbadan Hukum Perkumpulan dan Bersifat Nirlaba yang Melakukan Fasilitasi dan Implementasi Langsung  dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat Rentan, Perempuan dan anak pada Komunitas Desa-Kelurahan dan Pengembangan TKLD di Berbagai Level, dengan dukungan sumber daya yang berasal dari Iuran Anggota, Dana Hibah dari Berbagai Sumber Baik Lokal, Nasional dan Internasional (Kecuali Dana Hutang Luar Negeri) serta memiliki Wilayah Kerja di Regional Nusa Tenggara.

Bengkel APPeK Social Media