Berita

bengkelappek.org, Pusat telaah dan informasi regional (PATTIRO) bersama delapan mitra CSO di Sumatera Barat, Lampung, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur tengah mengembangkan program Voice for Inclusiveness Climate Resilience Actions (VICRA) yang akan diimplementasikan hingga pertengahan 2024 mendatang. Program yang didukung oleh Kedutaan Besar Belanda ini secara khusus akan mengawal implementasi KPBI pada sektor pertanian melalui perlibatan kelompok-kelompok rentan dengan membuka ruang sipil secara lebih luas.

Sebagai salah satu mitra CSO di NTT, Bengkel APPeK melakukan kegiatan Lokakarya Strategi Advokasi Perubahaan Iklim yang Berperspektif Gesi bertempat di Aula Kantor BAPPEDA-TTS, Rabu (31/08/22). Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai unsur terdiri dari Pemdes dan komunitas anak muda dari tiga Desa yakni Desa Oebobo, Desa Spaha dan Desa Tofen. Kemudian dari pihak OPD yaitu BAPPEDA, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian dan BPBD. Sedangkan dari organisasi masyarakat sipil yaitu CIS Timor dan KIPDA TTS.

Yohanis Manu, Kabid Sosbud BAPPEDA TTS, dalam sambutannya mengatakan berbagai kegiatan yang dilewati hari ini dan duduk bersama untuk mendengarkan apa yang akan dijadikan sebagai strategi dalam mengadvokasi perubahan iklim yang berperspektif gesi.

Baca Juga: FGD Isu Perubahan Iklim Multistakeholder Tingkat Provinsi NTT

“Besar harapan kami di tempat ini juga akan membuka diri untuk mendukung dari sisi data, karena mendukung proses perencanaan terkait dengan apa yang akan dilakukan oleh teman-teman Bengkel APPeK sepanjang mendampingi 3 Desa di TTS”,tuturnya.

Foto Kegiatan Lokakarya Strategi Advokasi Perubahaan Iklim Yang Berperspektif Gesi, Aula Kantor BAPPEDA TTS, Rabu, 31/08/22 (Sumber: Dokumentasi Elin)

Berkaitan dengan data, coordinator distric program VICRA, Vinsensius Bureni menyampaikan untuk agenda tahun pertama dan tim kolaborasi Bengkel APPeK  punya target adalah menemukan data.

“Kita mulai diskusi komunitas dan analisis kerentanan, setelah itu kita FGD di Kabupaten dan datanya sudah ada, kemudian kita sudah bangun link dengan pemerintah provinsi pertemuan multistakeholder dan sekarang sudah temukan datanya baik data informasi dari Desa, pertemuan Kabupaten, Provinsi dan termasuk seberapa besar kecenderungan dari aspek anggaran apakah mendorong perubahan iklim dan pertanian atau tidak. Hari ini kita akan menfinalkan itu dalam satu kertas kebijakan atau policy brief untuk kita dialogkan dengan Bupati dan DPRD”,ungkap direktur Bengkel APPeK itu.

Baca Juga:Diskusi Komunitas dan Pembentukan Kelompok Petani Rentan Milenial Desa Oebobo

Senada juga disampaikan peneliti Bengkel APPeK, Alfred Enamau,  ia mengatakan “data yang sudah ada kita gunakan untuk mendorong kebijakan ditingkat OPD dan Desa untuk masuk dalam rencana pembangunan di Desa dan Kabupaten atau datanya bisa digunakan untuk review RPJMDes bisa di sikronkan dengan RKPDes. Data ini juga bisa digunakan untuk penyusunan peraturan Desa terkait pencegahan bencana”,ujarnya.

Untuk diketahui, kegiatan ini akan dilanjutkan dengan pertemuan Konsolidasi yang akan dilakukan dalam waktu 2 minggu yang akan datang. Oleh karena itu, akan menggalang lebih banyak anak muda yang bergerak di bidang pertanian dan melibatakan berbagai organisasi di TTS untuk terlibat dalam pertemuan tersebut.

Penulis: Elin Sereh

Author: Bengkel AppekEmail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Tentang Kami

Bengkel APPeK (Bengkel Advokasi Pengembangan dan Pemberdayaan Kampung) adalah Sebuah Organisasi Berbadan Hukum Perkumpulan dan Bersifat Nirlaba yang Melakukan Fasilitasi dan Implementasi Langsung  dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat Rentan, Perempuan dan anak pada Komunitas Desa-Kelurahan dan Pengembangan TKLD di Berbagai Level, dengan dukungan sumber daya yang berasal dari Iuran Anggota, Dana Hibah dari Berbagai Sumber Baik Lokal, Nasional dan Internasional (Kecuali Dana Hutang Luar Negeri) serta memiliki Wilayah Kerja di Regional Nusa Tenggara.

Bengkel APPeK Social Media